10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Berita

"Goyang Dumang" Kena Kasus Lagi

Pelantun "Goyang Dumang" Cita Citata belum habis dirundung malang, kini ia dera kasus baru
dan di adukan ke Komnas HAM oleh salah satu tokoh masyarakat Papua, Johannes Gluba Gebze.

Cita Citata dinilai menyinggung warga Papua/ Budaya Papua, dengan membuat pernyataan secara terbuka di depan media. Menghadapi kasus ini, Penyanyi dangdut ini akhirnya meminta maaf. Dan menjelaskan kronologi kejadiannya.
Mengapa dirinya bisa mengucapkan kata-kata tersebut
Waktu itu Cita pakai baju Papua terus media tanya 'kenapa mukanya nggak dicorengin?'
Karena khasnya dicorengin. Terus Cita jawab, "Harus dicantikin jadi nggak kayak orang papua'.
Jadi nggak bermaksud menghina, Cita minta maaf, ini bukan bela diri. Tapi benar-benar minta maaf sebesarnya pada warga Papua,"
ujarnya didepan para awak media di Warung Rempah, Kranggan, Bekasi, Senin (16/2/2015).

Cita juga berharap agar Johannes Gluba Gebze, tidak membesarkan masalah ini. Cita beritikad baik ingin meminta maaf secara langsung kepada Johannes.
"Cita harap masalah ini tidak dibesarkan. Cita juga sadar salah. Kalau Cita diharuskan datang, Cita dengan senang hati datang," ujar pelatun Goyang Dumang itu .
Cita mengaku bangga saat mengenakan baju adat Papua. Ia bahkan sempat mengunggah fotonya di akun Instagram pribadinya. Cita sangat meyesal harus ada kesalahpahaman seperti ini dan memohon agar dirinya dimaafkan.
"Cita benar-benar minta maaf. Seribu maaf karena cita tidak bermaksud seperti itu, tidak bermaksud SARA atau menghina," tandas Cita.

Sebelumnya, kepala suku Papua Selatan, Johannes Gluba Gebze, diwakili oleh tim kuasa hukumnya, Dedi J, melaporkan Cita ke Komnas HAM karena telah menyinggung orang Papua. Dalam sebuah acara televisi, Cita menyebutkan dirinya lebih cantik dari orang Papua.
Karena kata-katanya itu, Cita diberikan waktu satu hingga tiga minggu untuk mengklarifikasi serta meminta maaf kepada warga Papua. (SP, Rabu-17 Feb 2015)

Globalisasi Mempengaruhi Kesatuan Nasional

Syarat terbentuknya kebangsaan adalah kehendak akan bersatu. Orang-orang Indonesia perlu merasa diri bersatu dan mau bersatu, pemikiran Ernest Renant ini menjadi penggerak spirit kejuangan Proklamator Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahwa kita hari ini telah bangga menjadi bangsa Indonesia, semua pasti sepakat dan telah terealisasi. Pertanyaannya, apakah keinginan, semangat dan kemauan untuk bersatu tersebut telah menjiwai diri kita hari ini? Demikian diungkapkan H.Irgan Chairul Mahfiz dalam Sosialisasi Konsensus Kebangsaan MPR RI yg dilaksanakan di Kec.Serpong Kota Tangerang Selatan, Sabtu (14/2).

Karena adanya semangat atau kehendak bersatu sebagai komitmen kebangsaan, bangsa Indonesia melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Proklamasi 17 Agustus 1945 sejalan dengan demokrasi dalam bingkaian "Negara Kesatuan". Sejarah membuktikan bahwa semangat persatuan dan kesatuan nasional mampu menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi segala tantangan, hambatan, gangguan dan ancaman dari berbagai pihak yang ingin merongrong kedaulatan negara, ungkap Irgan yang saat ini menjabat Anggota DPR RI Dapil Banten III.

Mulai awal tahun 2015 Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dimana terbukanya arus barang dan jasa bagi 10 negara anggota ASEAN. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus ancaman berkembangnya ideologi kebangsaan. Untuk itu Irgan mengajak untuk generasi muda memperkuat karakter kebangsaan kita. (SP. Minggu,15 Feb 2015)

34 PREMAN Penyerang Mesjid Az Zikra di Tangkap

SP (Sabtu,14 Feb 2015) Polisi menetapkan 34 dari 38 orang yang menyerang kompleks Masjid Az-Zikra di Kampung/Desa Cipambuan, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, sebagai tersangka. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah penyidik memeriksa mereka selama 20 jam.

Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Sonny Mulvianto Utomo mengatakan penetapan status tersangka terhadap puluhan orang tersebut dilakukan setelah penyidik memeriksa mereka secara maraton. "Sebanyak 34 orang memenuhi unsur tindak pidana, dan semuanya sudah langsung ditahan di Polres Bogor," kata Sonny, Jumat, 13 Februari 2015.

Para tersangka, menurut dia, memenuhi unsur tindak pidana pengeroyokan, perusakan, perbuatan tidak menyenangkan, dan ikut serta melakukan perbuatan tindak pidana. "Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 tentang Pengeroyokan, Pasal 335 juncto 55 dan 56 KHUP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan, dengan ancaman penjara 7 tahun," katanya. Adapun empat orang yang tidak jadi tersangka langsung dibebaskan.

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, polisi menolak menyebutkan dari kelompok mana mereka berasal. "Mereka preman dan kami tidak berfokus melihat mereka dari kelompok mana, tapi pada tindak pidana apa yang telah mereka lakukan," kata Sony.

Sonny mengimbau masyarakat tidak terpancing dengan peristiwa tersebut dan menyerahkan proses hukumnya kepada polisi.(Tempo.com)

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday166
mod_vvisit_counterYesterday114
mod_vvisit_counterThis week166
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2334
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153537

We have: 70 guests online
Your IP: 54.224.121.67
 , 
Today: Nov 19, 2017