10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Resensi

Turkistan, Negeri Islam Yang Hilang

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Banyak orang tak mengenal negeri Turkistan. Tetapi bagi umat Islam, tak kenal dengan salah satu negeri Islam yang kemasyhurannya hampir menyamai Andalusia, sangatlah aib. Bukankah nama-nama ilmuwan kita berasal dari sana? Al-Bukhari, Al-Biruni, Al-Farabi, Abu Ali Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh lainnya yang sampai kini merupakan tokoh-tokoh paling tak terlupakan umat Islam, berasal dari negeri tersebut.

Turkistan terletak di Asia Tengah dengan penduduk mayoritas keturunan Turki, merupakan salah satu benteng kebudayaan dan peradaban Islam. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berfikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi teritorial. Cina mulai bergerak menaklukkan Turkistan Timur dan kemudian merubah namanya menjadi Sinkiang, sementara Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakestan, dan Republik Soviet Kirgistan.

Atas aksi ekspansionis tersebut, Turkistan negeri Islam tersebut kini benar-benar telah raib (musnah) dari peta dunia. Penjajah Rusia dan Cina telah memecah-belahnya menjadi negara-negara boneka yang kini termasuk bagian dari Republik Sosialis Unisoviet dan Republik Rakyat Cina, dua komunis terbesar di dunia.

Komunis Cina telah mengadakan penghancuran total di Turkistan Timur, Agama Islam, umatnya, kebudayaan dan sejarahnya hendak dibumi-hanguskan dengan segala kekejaman yang kelewat batas. Jiwa-jiwa manusia yang semula merdeka dieksploitasi sedemikian rupa sehingga hampir-hampir mustahil sebagai perbuatan manusia.

Tragedi Turkistan kami sajikan di sini dalam bentuk roman yang tetap berpijak pada kejadian sejarah sesungguhnya.

Najib Al-Kailany, seorang sastrawan terkenal dari Mesir menyajikan dengan penuh nuansa, menggugah rasa keprihatinan kita atas nasib yang menimpa saudara-saudara kita yang sangat tertindas.

Demikian buku ini kami sajikan untuk menggugah dan membangkitkan kesadaran negara-negara muslim merdeka untuk turut berpartisipasi memerdekakan nasib suatu bangsa yang tertindas; untuk menyelamatkan umat dan akidah Islam dari penjajahan komunis.

Dengan kemampuannya bercerita dengan menghadirkan fakta-fakta yang nyata terjadi, Najib Al-Kailany seorang sastrawan Mesir yang kemasyhurannya dapat disejajarkan dengan pengarang-pengarang lain, seperti Musthafa Mahmud, Ali Ahmad Baaktsir, dan Toha Husain ini, membuat roman sejarah "Turkistan, Negeri Islam yang hilang", terasa enak dibaca. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, seperti; Nurullah, 'Amaliqah Minasy-Syamal (Raksasa dari Utara) Sirah Asy-Syuja' (Perjalanan Hidup Sang Pemberani), Qatilu Hamzah (Pembunuh Hamzah), Dam Lifathir Shuhyun (Setetes Darah untuk Zionis) dan lain-lain, maka "Layaali Turkistan" (Turkistan Negeri Islam yang Hilang) menyodorkan sisi-sisi kehidupan religius yang lekat dan mendalam.

Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya

Judul: Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya

Penulis: Sieling Go

Penerbit: Grasindo, 2010

Tebal: 404 Halaman

Buku ini mengisah tentang perjalanan Sieling Go, 51 tahun seorang diri menuju Himalaya, Nepal, pada tahun 2007. Dia adalah perempuan Indonesia, ibu dari 2 (dua) orang anak. Kemauannya yang keras membawanya berada selama lebih dari dua puluh hari melalui daerah bersuhu ekstrim untuk mencapai puncak gunung itu.

Selama melakukan perjalanan menuju puncak Himalaya, Seiling membuat sejumlah catatan. Hal ini lazim dilakukan oleh para pendaki untuk merekam apa saja yang mereka temui selama perjalanan. Catatan itulah yang kemudian disusun menjadi buku Nyanyian Angin di Himalaya ini.

Dari catatan yang dibuat tersebut, pembaca dapat ikut merasakan perjuangan Sieling dalam menaklukan alam. Suhu yang ekstrem, perubahan cuaca yang mendadak, serta medan yang berat, merupakan pengalaman sehari-hari yang ditemui untuk mencapai puncak Himalaya.

Ia menghadapi semua tantangan itu dengan penuh keberanian. Kadang-kadang, karena terlalu bersemangat, ia tidak menghiraukan peringatan para pemandunya. Tak pelak, kecelakaan kecil terjadi padanya yang mengakibatkan cedera ringan.

Perjalan yang penuh bahaya ini nyaris menyeret Sieling ke lubang kematian (hal. 247). Ia sempat terperosok ke dalam jurang. Hal ini terjadi ketika ia kembali Cchukhung dari Imja Base Camp.

Dalam catatan yang ditulisnya, terlihat Sieling mencoba untuk merekam apa yang ditemuinya. Hal ini terutama sangat berguna bagi mereka yang gemar mendaki gunung, terutama mereka yang berencana untuk mengikuti jejak Sieling hingga ke Himalaya.

Namun sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan kisah lain mengenai kehidupan masyarakat di wilayah yang ia lewati. Padahal sedikit kedalaman mengenai hal itu akan membuat buku ini lebih kaya sebagai sebuah catatan perjalanan. Cerita mengenai adat, kebiasaan, mitos, serta pengaruh kehidupan politik misalnya, akan membuat perjalanan Sieling semakin menarik dan bernas.

Catatan lain mengenai buku ini ialah, gaya penulisan Sieling yang lebih mirip dengan catatan harian. Jika saja Sieling mengemasnya dengan gaya penulisan feature ataupun jurnalistik gaya baru (the new journalism), maka tulisannya akan lebih enak untuk dibaca.***

Sumber : resensibuku.blogspot.com
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

 

Manusia Setengah Salmon

Judul buku : Manusia Setengah Salmon

Pengarang : Raditya Dika

Penerbit : Gagas Media

Edisi cetakan : I

Tahun terbit : Desember, 2011

Tebal buku : 272

Harga buku : Rp 42.000

Buku dengan bahasa gaul seperti “lo” dan “gue’ sehingga buku ini cocok dibaca oleh kalangan remaja yang berharap jadi gaul. Selain itu, buku ini berisi lelucon-lelucon yang bisa menemani waktu senggang dan sebagai pengganti dongeng sebelum tidur. Sayangnya, bahasa yang digunakan dalam buku ini terkesan terlalu vulgar dan menjelek-jelekkan diri. Kalau dilihat dari keseluruhan isi buku, kebanyakan isi buku ini menceritakan tentang kebodohan dan kesalahan-kesalahan penulis. Ini menunjukkan seakan-akan kebodohan dan kesalahan patut untuk ditertawakan.

Buku keenam yang ditulis setelah Marmut Merah Jambu juga mendapat respon yang sangat besar dari pembaca. Antusiasme ini dapat terlihat dari banyaknya pembaca setia buku-buku Raditya Dika menunggu peluncuran buku ini. Buku keenam ini memiliki format penulisan yang sama dengan buku sebelumnya. Buku ini ditulis dengan gaya khas Raditya Dika yaitu menjelek-jelekkan diri sendiri. Bukunya juga akan lebih tebal sedikit dibandingkan Marmut Merah Jambu. Berbeda dengan buku-buku Radit sebelumnya, Manusia Setengah Salmon tidak ada pre-order (pesan duluan) resminya.

Berikut cuplikan cerita dari suatu bab di buku ini : Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, 'Kamu takut ya? Makanya belom tidur?' 'Enggak, kenapa harus takut?' 'Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii...,' kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti. 'Enggak takut, Ma,' jawab gue. 'Kikkikikiki.' Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. 'Kikikikikiki.' 'Aku enggak ta—' 'KIKIKIKIKIKIKIKI!' Nyokap makin menjadi. 'Ma,' kata gue, 'kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.' ‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!' Nyokap sewot. 'Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!' 'Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.' Setelah membaca kalimat-kalimat dalam buku yang memuat 19 bab ini, saya simpulkan bahwa penulis mempunyai paradigma yang unik dalam menyikapi sebuah pengalaman ataupun kejadian yang ia alami. Cerita yang diceritakan dalam buku ini bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika. Dan juga, akan ada komik di beberapa bab, ada ilustrasi juga di beberapa bab yang di buat oleh Ardiano Rudiman. Hal menarik lainnya adalah teknik penceritaan dalam buku ini. Radit berhasil meramu pengalaman-pengalaman kecilnya dengan gaya humor dan bisa ditertawakan oleh pembacanya. Radit menggunakan Asalnya judul buku ini adalah Salmon Galau. Tapi, kemudian Radit mengubah judunya jadi Manusia Setengah Salmon. Kenapa judulnya harus diganti dengan Manusia Setengah Salmo ? Penasaran kan ? Jangan lupa beli dan baca sekarang.

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday93
mod_vvisit_counterYesterday62
mod_vvisit_counterThis week239
mod_vvisit_counterLast week1041
mod_vvisit_counterThis month1454
mod_vvisit_counterLast month4129
mod_vvisit_counterAll days1156786

We have: 27 guests online
Your IP: 107.20.120.65
 , 
Today: Des 12, 2017