10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Suara Parlemen

Tomy Winata Cs Bakal Rogoh Rp 3-4 Triliun untuk Studi Kelayakan JSS


Jakarta - Konsorsium Banten-Lampung yang termasuk di dalamnya Artha Graha Network menjadi pemrakarsa proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Sebagai pemrakarsa, konsorsium mendapat tugas pemerintah untuk menyiapkan persiapan proyek termasuk studi kelayakan atau feasibility study (FS).

Pimpinan Artha Graha Network, Tomy Winata mengatakan pihaknya masih menghitung secara detil soal biaya yang harus dikeluarkan terkait FS proyek JSS. Namun secara kasar, berdasarkan standar internasional membutuhkan dana 3-4% dari total proyek yang nilainya Rp 100 triliun atau Rp 3-4 triliun.

Jika menghitung total proyek JSS menurut versi Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, total dananya sebesar Rp 125 triliun. Dari jumlah itu sebanyak Rp 100 triliun untuk pembangunan fisik jembatan sepanjang 29 km dan Rp 25 triliun untuk pengembangan daerah di sekitar kawasan jembatan, di Lampung maupun Banten.

"Kami belum bisa pastikan sekarang, mungkin dua minggu lagi baru bisa ditafsir lebih akurat. Namun menurut standar internasional, kira-kira mencapai 3-4% dari total biaya proyek total," kata Tomy kepada detikFinance, Selasa (31/1/2012).

Ia juga sangat yakin akan menyelesaikan persiapan proyek JSS termasuk FS selama dua tahun ke depan. Pemerintah memang menargetkan akan melelang proyek ini setelah FS selesai, yang kemudian akan dilanjutkan tahap konstruksi 2014, ditargetkan akan selesai 8-10 tahun.

Sebelumnya juga Tomy mengaku telah merogoh koceknya sebesar US$ 40 juta untuk modal pra-studi kelayakan pembangunan JSS. Meskipun sampai saat ini dirinya belum ditunjuk sebagai pihak pembangun jembatan tersebut.

"Jadi kami belum punya hak untuk bangun. Namun saya rela keluarkan US$ 40 juta untuk pra-studi (pra FS)," imbuhnya beberapa waktu lalu.

Pihak konsorsium yaitu Artha Graha dan Pemda Lampung-Banten sebelumnya telah menyelesaikan pra FS, sebagai dasar untuk dilakukan FS.
(hen/dnl)

Bangun Jembatan Rp 100 Triliun, Tomy Winata Dekati BUMN China


Jakarta - Sebagai pemrakarsa pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS), pengusaha Tomy Winata kini terus mendekati China untuk mendapatkan pendanaan yang diperkirakan mencapai Rp 100 triliun.

Wakil Presiden Direktur Bank Artha Graha B. Wisnu Tjandra mengatakan, jembatan penghubung pulau Jawa dan Sumatera itu menarik perhatian banyak negara yaitu Jepang, Korea, dan China.

"Tapi sampai saat ini yang paling di depan dari segi kemungkinan (partner JSS) adalah China," ujar Wisnu di Gedung Artha Graha, SCBD, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Dikatakan Wisnu, jembatan ini merupakan proyek terbesar di Indonesia karena menghabiskan dana US$ 10 miliar atau sekitar Rp 100 triliun. "Itu (Rp 100 triliun) untuk jembatannya saja. Nanti kita akan bangun untuk pengembangan wilayahnya juga sesuai Perpres-nya," jelas Wisnu.

Namun Wisnu masih merahasiakan soal format atau bentuk kerjasama dengan negara lain untuk pembangunan jembatan tersebut. "Namun yang paling maju saat ini adalah China. Pak Tomy Winata juga baru balik dari China," imbuh Wisnu.

Dikatakan Wisnu, harus dibangun pengembangan wilayah sekitar jembatan ini sehingga modal pembangunan jembatan tersebut bisa kembali ke investor. "Kalau hanya jembatan saja maka duit nggak balik. Apalagi kalau jembatan dibangun maka kapal penyeberangan akan berkurang dan kapal internasional bakal lebih banyak. Maka butuh logistik," tutur Wisnu.

Selain China, saat ini pihak Amerika Serikat juga dikabarkan tertarik untuk bekerjasama dalam pembangunan jembatan tersebut. Namun China masih yang terdepan dalam berkomitmen membangun jembatan tersebut.

Seperti diketahui, konsorsium Pemda Banten-Lampung yang termasuk di dalamnya Artha Graha Network menjadi pemrakarsa proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Sebagai pemrakarsa, konsorsium mendapat tugas pemerintah untuk menyiapkan persiapan proyek termasuk studi kelayakan atau feasibility study (FS).

Pimpinan Artha Graha Network, Tomy Winata mengatakan pihaknya masih menghitung secara detil soal biaya yang harus dikeluarkan terkait FS proyek JSS. Namun secara kasar, berdasarkan standar internasional membutuhkan dana 3-4% dari total proyek yang nilainya Rp 100 triliun atau Rp 3-4 triliun.

Tomy juga telah merogoh koceknya sebesar US$ 40 juta untuk modal pra-studi kelayakan pembangunan JSS. Meskipun sampai saat ini dirinya belum ditunjuk sebagai pihak pembangun jembatan tersebut.

"Yang jelas ini bukan proyek TW (Tomy Winata) atau Artha Graha. Jadi proyek ini masih terbuka untuk semua pihak," tukas Wisnu.

(dnl/qom)

Pernah Usul Tutup Merpati, Dahlan Iskan Kini Balik Dukung

Jakarta - Manajemen PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) bertekad agar Merpati tetap bertahan walaupun tak bergantung pada Penyertaan Modal Negara (PMN) tambahan Rp 250 miliar. Hal ini mendapat pujian Menteri BUMN Dahlan Iskan yang mengatakan semangat Merpati mirip seperti yang terjadi di PT PLN (Persero).

"Apa yang ada di Merpati, seperti PLN. Tapi ini baru awalnya saja," kata Dahlan di gedung DPR, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Ia pun tidak campur tangan atas penyertaan dana tambahan Rp 250 miliar ini. Dahlan mempercayakan kepada manajemen Merpati. Opsi apapun termasuk pinjaman mungkin dilakukan Merpati, selama memungkinan dari sisi bisnis.

"Kita semua kerja keras. Dana itu diluar kemampuan BUMN. Mereka cari segala macam cara. Jadi pilihannya live or die. Kalau terlalu bersandar PMN, perusahaan manja. Jalankan dengan efisien," tambahnya.

"Mereka sepakat, Merpati harus bangkit. Tanpa atau dengan uang Rp 250 miliar," paparnya.

Niat mundurnya Direktur Utama MNA, Sardjono Jhony Tjitrokusumo pun ditentang seluruh karyawan. Seluruh internal berjanji tetap berjuang mempertahankan Merpati asal Jhony tidak mundur.

"Mundur nggak jadi. Ini konsekuensi. Namun pemenuhan dana diserahkan kepada korporasi. Bahkan mereka rencana membeli jet baru dengan kapasitas 100 tempat duduk," tegasnya.

Pengusaha media ini juga mengatakan dalam berbisnis uang adalah nomor dua.

Sebelumnya Dahlan Iskan mengusulkan untuk menutup PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Pasalnya, setelah disuntik dana oleh pemerintah sampai kini tidak banyak perubahan.

Usulan itu disampaikan Dahlan dalam rapat bersama manajemen dan komisaris maskapai plat merah itu akhir pekan lalu. Komisaris Utama Merpati M. Said Didu yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan, manajemen masih percaya Merpati bisa berkembang.

(wep/hen)

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday173
mod_vvisit_counterYesterday114
mod_vvisit_counterThis week173
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2341
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153544

We have: 70 guests online
Your IP: 54.224.121.67
 , 
Today: Nov 19, 2017