10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Internasional

Dunia Harus Melawan Intervensi Amerika

Bairut, SUARA PEMBANGUNAN.

Mantan Jaksa Agung Amerika Serikat Ramsey Clark menyerukan komunitas internasional untuk bangkit melawan kebijakan intervensi pemerintah AS. Ditegaskannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan satu-satunya badan pemelihara perdamaian di dunia.

"PBB adalah satu-satunya penjaga perdamaian di dunia, PBB melibatkan suara semua orang. Semua intervensi kami telah menjadi kegagalan bagi rakyat di negara-negara yang kami intervensi," cetus Clark dalam wawancara dengan mediaPress TV, Selasa (17/9/2013).

"Intervensi AS adalah untuk tujuan yang salah dan tak bisa dibiarkan dan harus dilawan," imbuhnya.

Hal tersebut disampaikan saat Clark menghadiri sebuah konferensi di Beirut, Libanon guna menunjukkan dukungannya bagi rakyat Suriah dan penolakannya atas intervensi militer AS di Suriah.

Konferensi tersebut digelar di tengah ketegangan politik di wilayah Timur Tengah. Konferensi ini dihadiri para pemimpin agama, politikus dan aktivis dari berbagai belahan dunia. Tujuannya, untuk menyampaikan penolakan atas intervensi militer AS di Suriah.

Selain mengecam kemungkinan aksi militer AS di Suriah, Clark juga menentang intervensi militer AS di negara-negara lain.

*sumber : detik.com

Jenderal AS Ingatkan Tidak Lancarkan Serangan Militer terhadap Suriah

Washington, SUARA PEMBANGUNAN.

Pejabat tinggi militer Amerika Serikat mengingatkan untuk tidak melancarkan serangan militer terhadap Suriah. Sebabnya, hal itu akan menyebabkan AS kian terlibat dalam konflik yang sebenarnya tak bisa diselesaikan secara militer.

"Kita bisa menghancurkan Angkatan Udara Suriah," kata Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey serperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (21/8/2013).

"Namun itu juga akan meningkatkan dan berpotensi kian melibatkan AS ke konflik itu," imbuh jenderal tersebut dalam surat yang ditujukan ke anggota DPR AS, Eliot Engel.

Jenderal terkemuka AS itu mengatakan, intervensi militer AS di Suriah akan membuat AS jatuh lebih dalam ke perang lain di Timur Tengah.

"Penggunaan kekuatan militer bisa mengubah keseimbangan militer. Namun itu tak bisa menyelesaikan isu-isu etnis, agama dan kesukuan yang tersembunyi dan bersejarah, yang membakar konflik ini," tandas Dempsey.

Dikatakan Dempsey, para militan yang memerangi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad juga tak akan mendukung kepentingan AS jika mereka nantinya berkuasa.

"Suriah saat ini bukan soal memilih antara dua pihak namun lebih ke soal memilih satu di antara banyak pihak lainnya," tutur Dempsey.

"Saya yakin bahwa pihak yang kita pilih harus siap mendukung kepentingan mereka dan kita ketika pergeseran keseimbangan memihak mereka. Saat ini, mereka tidak siap untuk itu," kata Dempsey.

Menurut Jenderal Dempsey, konflik Suriah "tragis dan kompleks."

"Itu merupakan konflik yang sangat berakar, jangka panjang di kalangan berbagai faksi, dan perjuangan keras untuk berkuasa akan terus berlangsung setelah berakhirnya kekuasaan Assad," tutur Dempsey seraya menekankan perlunya mengevaluasi efektivitas opsi militer terkait hal tersebut.

*Sumber : detik.com

10 Ribu Orang di Evakuasi karena ditemukan Bom Sisa PD.II

Budapest, SUARA PEMBANGUNAN.

Budapest - Bom sisa Perang Dunia II kembali ditemukan di Hungaria. Kali ini, ditemukan di dekat sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di kota Szekesfehervar. Sebanyak 10 ribu orang pun harus dievakuasi ke tempat yang aman akibat temuan ini.

Bom buatan era Uni Soviet seberat 100 kg ini ditemukan di arena pasir tempat bermain anak di dekat sebuah TK pada Kamis (18/7) waktu setempat. Lokasi penemuan bom ini berjarak sekitar 65 km dari ibukota Budapest.

Aparat setempat mengevakuasi warga dan melakukan pembersihan di sekitar lokasi temuan bom. Hasil pemeriksaan sementara menemukan bahwa bom tersebut mengandung 25 kg bahan peledak.

"Sangat jarang untuk menemukan bom sebesar ini di wilayah pemukiman di Hungaria akhir-akhir ini," ujar kepala kantor pemerintah setempat, Norbert Dancs, seperti dilansir Asia One, Jumat (19/7/2013).

Sepanjang Perang Dunia II, wilayah Hungaria memang kerap dibombardir oleh tentara Amerika Serikat, Inggris dan juga Uni Soviet. Berpuluh-puluh tahun setelah perang, temuan bom yang belum meledak dan terkubur di dalam tanah cukup sering terjadi.

Sebelumnya pada Rabu (17/7) waktu setempat, polisi di Budapest harus mengevakuasi 1.500 orang pasca temuan bom di lokasi konstruksi setempat. Sejauh ini, bom-bom yang ditemukan berhasil diamankan aparat setempat, tanpa menimbulkan kerusakaan ataupun memakan korban jiwa.

*Sumber : detik.com

WALUBI : Perlakukan Umat Islam Sama Dengan Umat Lainnya

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Perwalian Umat Budha Indonesia minta Pemerintah Myanmar agar memperlakukan penganut Islam sama dengan umat lainnya, karena ajaran Buddha menekankan kepada belas kasih, kebijakan dan cinta damai dengan menjauhkan kekerasan antarsesama.

Pernyataan tersebut disampaikan Koordinator dewan sangha Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI) Tadisha Paramitha Mahasthavira kepada pers sesusai mendatangani kedutaan besar Myanmar di Jakarta, Jumat.

Pengurus Walubi dengan sejumlah bhiksu mendatangi kedutaan besar Myanmar di Jalan H. Agus Salim untuk menyampaikan pernyataan sikap terkait dengan situasi terakhir di negeri itu.

Tindakan pembantaian dan provokasi biksu dan umat Buddha Myanmar yang diberitakan melakukan genosida terhadap muslim Rohingya dan umat muslim di Myanmar sangat disesalkan.

Nasib minoritas di Myanmar memprihatinkan. Mereka menjadi warga tanpa memiliki negara, khususnya di kawasan Arakan. Umat muslim di daerah ini sejatinya sudah bermukim di kawasan itu sejak 1877 masehi ketika zaman Harun al-Rasjid. Di kawasan itu sudah ada kesultanan Arakan.

Menurut Tadisha Paramitha, umat Buddha di Indonesia memiliki etika dan moralitas untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia. Karena itu ia mengimbau agar pemerintah Myanmar mengedepankan toleransi dan merangkul semua golongan. Termasuk kaum minoritas, yaitu umat Islam di negeri tersebut.

Dalam menyampaikan sikap tesebut nampak pengurus Walubi Citra Surya (Sekertaris Jenderal Walubi), Suhadi Sanjaya (Wakil Ketua Walubi) dan beberapa bhiksu hendak menemui Dubes Myanmar. Rombongan tak dapat diterima Dubes. Seperti disampaikan penjaga keamanan setempat, Jamil, Dubes tak ada di tempat.

Lantas Surat pernyataan sikap pun disampaikan kepada salah seorang staf kedubes.

Menurut Suhadi, Walubi menyatakan prihatin atas rangkaian peristiwa di negeri itu. Aksi diskriminasi di Rohingya sampai kerusuhan belum dapat diselesaikan dengan baik.

Rasa aman hilang bagi sebagian umat beragama, baik yang berada di Myanmar maupun di Indonesia.

Umat Buddha di Indonesia mengecam peristiwa yang menelan jiwa dan tindakan yang merusak tempat ibadah, kata Suhadi.

Karena itu, tanpa bermaksud mencampuri urusan dalam negeri di Republik Persatuan Myanmar, mengimbau dan minta pemerintah setempat untuk menyelesaikan persitiwa tersebut guna menjaga kebebasan beragama bagi warganya. Termasuk menegakkan hukum, termasuk hak individu setiap manusia.

Perahu Pengungsi Rohingya Terbalik

Burma, SUARA PEMBANGUNAN.

Sekitar 130.000 warga Rohingya mengungsi di negara bagian Rakhine karena kekerasan antar agama.
Sebuah perahu yang membawa sekitar 200 warga suku Rohingya terbalik di lepas pantai Burma barat.

Mereka sedang dalam perjalanan untuk mengungsi dari tempat tinggal sementara guna menghindari topan Mahasen, yang diperkirakan akan menghantam kawasan tersebut dalam hari-hari mendatang.

Perahu tenggelam di laut lepas setelah meninggalkan kota Pauktaw, di negara bagian Rakhine, Senin (13/05) malam dan dikhawatirkan sebagian besar penumpangnya tewas.

Hingga berita ini diturunkan, baru satu orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, seperti dilaporkan wartawan BBC, Jonathan Head, dari Bangkok.

Sekitar 130.000 umat Islam Rohingya tinggal di tempat-tempat penampungan sementara di Rakhine setelah kekerasan antar kelompok Islam dan Budha yang berawal pertengahan tahun lalu.
"Tampaknya perahu meninggalkan tempat penampungan setelah mendapat izin pihak berwenang sebelum menghantam batu," tutur Kepala Badan PBB untuk bantuan Kemanusiaan di Burma, Barbara Manzi, kepada BBC.

Manzi menambahkan upaya pencarian korban masih terus berlangsung. Upaya memindahkan para warga Rohingya diserukan oleh PBB karena banyak tempat penampungan yang berada di kawasan pantai yang rendah sehingga rawan banjir dan tersapu ombak jika topan tiba.

Perkiraan awal menyebutkan topan akan mendekati perbatasan Burma dan Bangladesh pada Kamis (16/05) dan tentara sudah dikerahkan untuk membantu pemindahan para pengungsi.

*Sumber : Detiknews.com

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday230
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week388
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2556
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153759

We have: 58 guests online
Your IP: 23.20.162.200
 , 
Today: Nov 20, 2017