10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Internasional

Pria Ini Menempuh 600 Km Hanya Untuk Upacara Bendera

Houston, SUARA PEMBANGUNAN.

Keinginannya untuk bisa mengikuti upacara bendera memperingati HUT ke-67 RI sangat besar. Pria ini rela menempuh perjalanan sepanjang 600 km agar bisa turut merayakan kemerdekaan Indonesia.

Dia bernama Djoko Soejoto, WNI yang hijrah ke Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1959 silam. Tom, begitu panggilan akrabnya, tinggal di Wichita Falls, sebuah kota paling utara negara bagian Texas, berbatasan dengan negara bagian Oklahoma.

Untuk bisa mengikuti upacara kemerdekaan di Konsulat Jenderal RI (KJRI) Houston, Texas, Tom harus mengendarai mobil selama 7 jam. Jarak yang ditempuh 375 mil atau lebih 600 km.

"Saya datang jauh-jauh untuk menghadiri upacara ini karena saya sangat cinta Indonesia. Saya rindu suasana Indonesia," kata Tom kepada Konsul Jenderal RI di Houston, Al Busyra Basnur, seperti dalam rilis Konjen RI di Houston yang diterima redaksi, Selasa (21/8/2012).

Tom datang bukan hanya untuk mengikuti upacara. Dia juga membawa lambang negara burung Garuda yang terbuat jari kayu jati. Lambang Garuda seberat hampir 70 kilogram itu ia terima dari ayahnya tahun 1959 saat hijrah ke AS. Tom menitipkan burung Garuda itu kepada Konsul Jenderal Al Busyra Basnur untuk dipajang.

"Saya akan bermalam di Houston karena saya juga ingin menghadiri acara lebaran bersama masyarakat Indonesia di kediaman Konsul Jenderal pada hari Minggu," tutupnya.

Sumber : detiknews.com

ASEAN Tegur Pemerintah Myanmar

Phonmpenh, SUARA PEMBANGUNAN.

Perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) mengecam dan menegur Myanmar atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rohingya. ''Harmonisasi (antar etnis) adalah integral dengan proses demokratisasi di Myanmar,'' tulis pernyataan Menlu ASEAN, seperti dilansir laman resmi Kesekretariatan ASEAN, aseansec.org, Jumat (17/8).

Selain itu, melalui konsultasi antar Menlu ASEAN, kelompok deklarasi Bangkok 1967 ini sepakat untuk memberikan dukungan penuh atas permintaan Pemerintah Myanmar dalam menyokong dan menangani bantuan kemanusian di wilayah konflik antar etnis tersebut.

ASEAN tulis pernyataan itu, menyambut baik langkah Pemerintah Myanmar, dalam mengatasi pertikaian yang telah menewaskan 78 orang (versi pemerintah) itu. Menurut ASEAN kerjasama dengan Badan Resmi PBB, Organisasi Internasional lainnya, maupun Lembaga Internasional Nonpemerintah (NGO) juga diperlukan untuk mengatasi dampak kemanusian, bagi korban kerusuhan antar etnis itu. ''ASEAN mengharapkan agar langkah tersebut dapat dilanjutkan ke tahap penyelesain,'' tulis pernyataan tersebut.

Dari Yangon, Presiden Myanmar U Thein Sein telah membentuk Komisi Kebenaran. Komisi yang beranggotakan 27 orang tersebut, akan menginvestigasi konflik komunal antara Buddha Arakan dan Muslim Rohingya yang terjadi awal Juni lalu.

Komisi tersebut terdiri dari unsur aktivis kemanusiaan, perwakilan partai-partai di Myanmar, utusan organisasi keagamaan, dan pemantau dari PBB. Komisi akan diketuai oleh seorang mantan pejabat Kementerian Agama yang tidak disebutkan namanya. ''Komisi diberi waktu satu bulan untuk bekerja. Laporan investigasi selanjutnya akan diajukan pada 17 September mendatang,'' kata Sein, seperti dilansir kantor berita The Associated Press, Jumat (17/8).

Sumber : Republika.co.id

Korban Gempa di Iran Bertambah

Dubai, SUARA PEMBANGUNAN.

Ribuan orang masih meringkuk di tenda-tenda darurat atau tidur di jalan-jalan setelah terjadi gempa yang berpusat di Barat Laut Iran, kota Tabriz, pada Sabtu, 11 Agustus 2012.

Korban gempa yang terjadi di Iran bertambah menjadi 250 meninggal dan 1800 luka-luka. Petugas penyelamat telah melakukan penyisiran di antara reruntuhan bangunan di puluhan desa. Staf medis juga telah berusaha keras menyelamatkan nyawa korban luka.

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah karena sebagian korban berada dalam kondisi kritis. Sementara korban lainnya masih terperangkap reruntuhan bangunan. Upaya penyelamatan terkendala karena tempat korban sulit diakses dan keadaan gelap.

Akibat gempa ini, media Iran melaporkan, enam desa hancur. Lebih dari 60 desa lainnya mengalami kerusakan lebih dari 50 persen. Sementara Deputi Menteri Dalam Negeri, Hassan Ghadami, seperti dikutip dalam Fars, menyebutkan sekitar 110 desa rusak.

Seorang pejabat darurat setempat mengatakan pada Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) meyakini bahwa korban luka sekitar 2.000.

Foto-foto yang ditampilkan dalam situs berita Iran menunjukkan banyak korban termasuk anak-anak bergelimpangan di lantai keramik putih di kamar mayat di kota Ahar, dan staf medis tampak sedang merawat korban luka di ruangan terbuka.

Foto lain memperlihatkan reruntuhan bangunan akibat gempa. Petugas penyelamat sedang menggali puing-puing reruntuhan untuk mengeluarkan korban, beberapa masih hidup tapi beberapa ditemukan sudah tidak bernyawa.

Survei Geologi Amerika Serikat menyatakan gempa pertama berkekuatan 6,4 skala ricter. Pusatnya di daerah berjarak 6o kilometer atau 37 mil Timur Laut kota Tabriz dengan kedalaman 9,9 kilometer atau 6,2 mil. Gempa kedua berkekuatan 6,3 skala richter terjadi 11 menit setelah gempa pertama. Pusat gempa kedua di wilayah berjarak 49 km dari Tabriz dengan kedalaman hampir sama.

Iran yang terletak di jalur patahan besar, sebelumnya mengalami gempa dengan kekuatan 6,6 skala richter pada tahun 2003 menewaskan lebih dari 25.000 orang. Saat itu, pusat gempa berada di sebelah tenggara kota bersejarah Bam.

Sumber : tempo.co

Pembakaran Rumah Muslim Rohingya Masih Terjadi

Yangoon, SUARA PEMBANGUNAN.

Kaum Buddha yang didukung pemerintah Myanmar terus membakar desa dan masjid kaum Muslim di negeri itu. Kehadiran pasukan militer bersenjata berat pun tampak di ibu kota Rakhine, Sittwe. Selain itu, jam malam pun diberlakukan.

Bahkan, seperti dilansirPress TV, aksi pembakaran itu tak kunjung berhenti kendati kecaman terus berdatangan dari seluruh dunia. Wilayah selatan Rakhine telah menjadi kawasan penuh kekerasan terhadap Rohingya sejak Juni 2011 yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Myanmar sendiri disebut-sebut menolak mengakui Rohingya karena dianggap bukan warga asli Myanmar dan menganggap mereka migran ilegal. Padahal warga Rohingya sendiri disebut sebagai keturunan Muslim yang berasal dari Persia, Turki, Bengali serta telah bermigrasi ke Myanmar sejak abad ke-8.

Sumber : Press TV

Pemerintah Turki Ikut Prihatin Dengan Muslim Rohingya

Yangoon, SUARA PEMBANGUNAN.

Pemerintah Turki menunjukkan komitmen nyata untuk menyudahi penderitaan etnis Muslim Rohingya di Myanmar. Rombongan menteri luar negeri Turki, Ahmet Davutoglu tiba di Myanmar, Kamis (9/8) dalam kunjungan kenegaraan ke negeri yang baru terbebas dari cengkeraman junta militer itu.

Dalam lawatannya itu, Davutoglu melakukan pertemuan resmi dengan sejumlah pemimpin Myanmar. Lawatan itu juga ditujukan untuk mengawasi distribusi bantuan kemanusiaan Turki bagi pengungsi Muslim Rohingya.

Saat bertemu dengan Presiden Thein Sein, Davutoglu menyampaikan rencana Turki untuk membuka kedutaan besar di Myanmar. Thein Sein pun menyambut baik rencana tersebut dan balas menyatakan keinginannya untuk membuka kedutaan di Turki.

Davotoglu juga dijadwalkan melakukan pertemuan dengan menteri luar negeri Myanmar, Wunna Maung dan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi. Sebelumnya, ia menyempatkan diri mengunjungi makam tentara-tentara Turki yang disandera Inggris dan dibawa ke Myanmar semasa Perang Dunia I. Istri Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Emine Erdogan, dan putrinya, Sumeyye Erdogan juga turut serta dalam rombongan.

Dalam salah satu pidatonya, Emine menyatakan keprihatinan mendalam terhadap penderitaan yang dialami etnis Muslim Rohingya. "Di sebuah era di mana doktrin-doktrin Budha banyak dijadikan pedoman, sangat mengerikan melihat apa yang telah dilakukan oleh para pengikutnya di sini. Bagaimana respons komunitas internasional seandainya pembantaian ini dilakukan oleh orang-orang Muslim?' kata Emine seraya merujuk data 77 korban tewas dalam konflik antaretnis yang merundung Myanmar.

Sumber : republika.co.id

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday83
mod_vvisit_counterYesterday114
mod_vvisit_counterThis week83
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2251
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153454

We have: 15 guests online
Your IP: 54.224.121.67
 , 
Today: Nov 19, 2017