10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Citizen Jurnalism

Kemenangan Jokowi - Kemenangan Anak Muda Kreatif

Kemenangan ini bukanlah kemenangan pihak pak Jokowi-ahok saja, apalagi kemenangan PDI-P dan Gerindra, Bukan… tapi ini adalah kemenangan seluruh warga Jakarta.

Dengan dukungan dari anak-anak muda yang kreatif, rakyat kecil yang butuh kesejahteraan, pengangguran yang butuh pekerjaan, pedagang kecil yang butuh pasar layak, ibu-ibu yang menginginkan pendidikan benar-benar gratis, pengguna jalan yang berharap kemacetan hilang, dan seluruh lapisan masyarakat yang semuanya berharap Jakarta baru, kearah yang lebih baik telah menempatkan Pak jokowi dan Basuki sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2016 (berdasarkan hasil rata-rata seluruh Quick Count)

Kemenangan ini membuktikan, bukan janji manis yang ingin didengar, bukan rasa pesimis yang ingin dibangun (maklum, kata calon incumbent, janji pak Jokowi terlalu muluk), tapi sikap sederhana, apa adanya, transparan dan jujur itulah yang ingin dilihat dan dirasakan oleh warga Jakarta.

Masyarakat sudah jenuh lihat kelakuan para pemimpin yang sok, sok kaya, sok punya jabatan, sok sibuk, sok penting, terlihat dari mobil dinas yang selalu gonta-ganti, pakaian yang selalu terlihat parlente, rambut yang selalu klimis, dan selalu “lupa” akan janji awalnya ketika berkampanye, karena memang tujuan mereka adalah kekuasan, uang dan jabatan.
Sedikit sekali pemimpin yang ingin berjibaku dengan rakyatnya, yang tampil sederhana, transparan, jujur, selalu mementingkan rakyat kecil, namun tegas dengan korupsi dan birokrasi "njelimet", terbukti dari kebijakan-kebijakan Pak Jokowi dan Pak Basuki ketika masih menjabat di daerahnya masing-masing, selalu turun ke jalan, mendengar keluhan langsung dari rakyatnya, tidak ingin berbeda dengan rakyatnya, membaur. 
Dalam pilkada kali ini juga terlihat, lebih banyak mana spanduknya dijalan dan siapa yang melakukan kampanye hitam? 
Warga Jakarta Pintar, Cerdas dan Kreatif, kemenangan ini merupakan cerminan dari hal itu.
Saya salut dengan Pak Jokowi dan Pak Basuki.

Kita do’akan semoga beliau amanah dan tetap mendengarkan rakyat kecil. Mudah-mudahan nanti kalau lagi makan siang di warteg eh ketemu Pak Jokowi yang ternyata juga lagi makan di warteg tersebut… hehehe…

Ditulis oleh : Ali Jakariya

Mencontoh Hidup Hemat Masyarakat Norwegia

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Kendati negara mereka supermakmur, penduduknya berpenghasilan tinggi, dan fasilitas publiknya sangat bagus, namun gaya hidup mereka tetap terlihat sederhana (dibandingkan dengan pendapatan mereka).

Berikut ini adalah beberapa gambaran tentang gaya hidup sederhana atau hemat mereka yang saya perhatikan selama kuliah di negara ini.

Pertama, mereka membawa makan siang dari rumah. Sebenarnya di setiap kantor tersedia kantin yang menyediakan berbagai menu makanan. Namun, mereka tetap lebih senang membawanya dari rumah dan makan di kantin bersama rekan-rekan kerja. Pengelola kantin tidak mempersoalkan itu. Walaupun demikian, sebagian dari mereka ada juga yang membeli makan siang di kantin.

Kedua, bagi mereka, makan besar (dengan menu lengkap) hanya sekali sehari, yaitu saat makan malam. Sedangkan saat makan siang menunya sangat sederhana. Cuma roti, salad, dan buah.

Ketiga, ukuran dan model rumah yang sederhana. Hampir semua rumah di Norwegia memiliki model dan ukuran yang hampir sama antara satu dengan yang lain.Mayoritas rumah terbuat dari kayu dan mengikuti model serta warna tradisional mereka: merah atau krem. Setiap rumah memiliki pagar kayu setinggi satu meter.

Keempat, suami istri tidak memiliki pembantu rumah tangga di rumah. Kendati suami dan istri sama-sama sibuk bekerja, namun semua urusan di rumah diurus sendiri oleh pemiliknya.Istri dan suami punya tanggung jawab yang sama dalam mengurus rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, bahkan menjaga anak.

Kelima, warga Norwegia senang berjalan kaki dan bersepeda. Walau nyaris semua warganya memiliki mobil, namun berjalan kaki dan bersepeda merupakan hal yang mereka senangi. Saya sering melihat dosen-dosen yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus selalu berjalan kaki atau bersepeda ke kampus.

Keenam, mereka lebih banyak menghabiskan waktu luang di rumah daripada di kafe. Bila sedang tidak memiliki aktivitas, maka mereka akan menghabiskan waktu di rumah. Untuk liburan dan interaksi bersama keluarga dan rekan-rekan, mereka menggunakan waktu akhir pekan.Biasanya dengan pergi ke bungalow mereka di gunung atau menggunakan karavan bagi yang tidak memiliki bungalow.

Ketujuh, pejabat negara disambut secara sederhana. Selama saya kuliah, ada dua pejabat Norwegia yang berkunjung ke kampus kami, yaitu Menteri Pendidikan dan Menteri Luar Negeri Norwegia.Tidak terlihat penyambutan mewah yang menguras dana, waktu, atau tenaga banyak orang. Hanya ada satu karangan bungan ucapan selamat datang di dinding kampus.Yang menyambut di depan pintu kampus hanya rektor dan dekan. Sang menteri pun makan siang di kantin kampus. Tak banyak kenduri di negara ini.

Kedelapan, dalam penyaluran hobi mabuk pun mereka hemat. Untuk ritual mabuk di akhir pekan mereka punya trik hemat, yaitu minum banyak di rumah, baru pergi ke bar, tentunya harus naik taksi.

Kesembilan, fasilitas pemerintahan tergolong sederhana. Pejabat di Norwegia seperti gubernur, wali kota, atau yang lainnya tidak banyak mendapat fasilitas dari negara.Tidak ada rumah atau mobil dinas. Juga tak tersedia sopir pribadi, apalagi pengawal (kecuali dalam situasi khusus).

Saya sering melihat Arnfind Uthus, Wakil Wali Kota Elverum, tempat tinggal saya (ia pernah ke Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang) datang ke kampus menghadiri acara dengan menyetir sendiri.

Sepulang dari kunjungannya ke Aceh, Arnfind Uthus, pernah berseloroh kepada kami. Ia sangat ingin menjadi pejabat di Aceh, karena tergiur dengan banyaknya fasilitas yang diperoleh pejabat di Aceh.(*)

Penulis adalah : M Armiyadi Signori, mahasiswa Hedmark University Norwegia.

GENG MOTOR MENGANCAM REMAJA

Geng motor dan geng-geng remaja lain pada awalnya merupakan jawaban nyata dari kebutuhan kaum remaja atas wadah komunikasi antarsesama tadi. Remaja-remaja yang punya back ground sama: memiliki sepeda motor dan suka ber-motor ria'. Pada perkembangannya, setelah mereka berkumpul dalam sebuah geng, mereka akan mengisi perkumpulan itu dengan aktivitas. Di sinilah masalah mulai muncul. Pemilihan terhadap aktivitas apa yang akan dijadikan materi kelompok akan menentukan bagaimana warna geng itu ke depan. Tidak semua geng motor mempunyai tujuan baik, atau bahkan jangan-jangan ada geng motor yang memang mempunyai tujuan tidak baik semenjak awalnya.

Lebih parah lagi, bila tujuan yang kurang atau tidak baik itu memang telah ditetapkan dan disepakati bersama anggota geng untuk dilaksanakan. Patut diduga, remaja-remaja memilih geng motor sebagai saluran organisasinya karena organisasi-organisasi remaja yang sudah establish barangkali tidak mampu untuk mewadahi mereka. Atau lebih dari itu, organisasi bersegmen remaja tidak bisa menjangkau dan melayani kebutuhan mereka. Remaja adalah masa di mana mereka membutuhkan wadah untuk berapresiasi dan berekspresi. Sepanjang organisasi remaja tidak mampu memenuhi itu, maka ia akan ditinggalkan. Menurut psikologi perkembangan, kebanyakan anak remaja belum punya pikiran jauh dan panjang.

Remaja adalah pribadi-pribadi yang gelisah. Posisi organisasi remaja seharusnya mampu menjadi ? pelarian' (dalam artian positif) bagi kegelisahan mereka. Para remaja banyak yang merasa kesepian dan membutuhkan pendamping, di luar orangtua dan guru mereka. Apalagi dalam satu kasus ketika orangtua tidak cukup waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak,dan guru hanya bisa mengajarkan mata pelajaran secara teks book semata. Organisasi remaja semisal Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI), Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Pelajar Islam Indonesia (PII), Remaja Masjid, Karang Taruna, dan sebagainya harus mampu melakukan reorientasi program dan kegiatan yang mempunyai sense kuat terhadap kebutuhan remaja.

Penulis : Chairunnisa (*pelajar sma Pembangunan)

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday37
mod_vvisit_counterYesterday124
mod_vvisit_counterThis week550
mod_vvisit_counterLast week1227
mod_vvisit_counterThis month2539
mod_vvisit_counterLast month4119
mod_vvisit_counterAll days1150215

We have: 9 guests online
Your IP: 23.20.86.177
 , 
Today: Okt 21, 2017