10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Buku

Perilah buku The Dancing Leader: hening-mengalir-bertindak.

Buku setebal lebih dari 700 halaman ini ditulis oleh 45 pakar dari berbagai bidang keilmuan dan pengalaman. Rentang keahliannya cukup lebar dari ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu sosial dengan turunannya yang cukup spesifik.

Mereka berasal dari kalangan akademisi, praktisi, swasta, dan pemerintahan. Penggagas awal dan kordinator tim editor adalah Jusuf Sutanto yang dikenal sebagai filsuf Timur dan berpangalaman dalam dunia bisnis pangan.

Dari banyaknya kontributor dan keragamannya terlihat memang tidak mudah untuk membuat buku sejenis The Dancing Leader (TDL) ini.

Diawali dengan keinginan mengisi hari-hari besar Indonesia, para kontributor mengharapkan adanya suatu pendekatan holistik terhadap permasalahan umat manusia, khususnya bangsa Indonesia yang diduga akan semakin kompleks.  

Ledakan penduduk yang sulit disetop ini tentu akan menuntut pemikir, ilmuwan, praktisi, dunia pendidikan, pemerintahan, swasta dari berbagai sektor kehidupan untuk bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan dengan pendekatan holistik, integratif, dan transdisiplin. Atas dasar keinginan itulah buku ini disusun.

TDL mencoba menyodorkan pendekatan transdisiplin terhadap persoalan bangsa yang saling kait mengait, rumit, dan berliku. Di situlah pentingnya the dancing leader yang dapat melihat dengan telinga dan mendengar dengan hati. Sensitif terhadap persoalan kebangsaan dan kemanusiaan lalu mampu menjalankan ide-ide solutif dan tidak terlalu banyak berwacana.

Momen demi momen lebur menyatu dengan persoalan kemanusiaan dan semesta, bebas dari perasaan menjadi orang penting yang mengemban amanah suci. Kecepatan, ketepan, keindahan, dan keteraturan yang dilandasi dengan kecintaan adalah tipe-tipe pemimpin yang memahami sejarah, kekinian, dan masa depan bangsa.

Buku ini terdiri atas empat bab diawali dengan sambutan-sambutan bermakna dari para pemimpin universitas. Rektor Universitas Pancasila menitikberatkan sambutannya pada tema perguruan tinggi sebagai pusat peradaban.

Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia mengangkat isu pemahaman seni memimpin dari pertanian holistik. Berikutnya, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah mengapresiasi TDL dan mengajak menari bersama semesta.

Rektor Universitas Kristen Satya Wacana menekankan betapa indahnya keragaman. Rektor Universitas Sanata Dharma mengetengahkan perilah keanekaragaman hayati di Indonesia. Mereka bisa dikatakan sebagai pemimpin yang mempunyai kriteria the dancing leader: kecepatan bertindak, penyatuan visi dan aksi, pengatur suara-suara orkestra besar sehingga enak didengar dan indah dipandang.

Bab I yang diberi judul Tarian Kepemimpinan itu memuat tulisan-tulisan yang mendasari betapa pentingnya leadership untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Indonesia pada hakekatnya mempunyai sebuah peradaban tinggi yang dapat menjadi modal kebanggaan jati diri bangsa lalu menjadi landasan untuk bergerak maju menghadapi berbagai tantangan.

Keyakinan untuk maju dalam kemajemukan bangsa akan membawa Indonesia menjadi negara terhormat yang disegani bangsa-bangsa lain di dunia ini. Rocky Gerung menekankan bahwa peradaban jauh lebih penting dari sekedar memenuhi kebutuhan material yang justru bisa membawa manusia ke wilayah terpuruk. Azyumardi Azra  menekankan bahwa modal multikulural Indonesia itu sangat baik dalam membangun masa depan melalui kaidah-kaidah Pancasila.

Untuk itu, Daoed Joesoef mengajak kita untuk mencari kriteria-kriteria pemimpian yang relevan dalam pembangunan Indonesia ke arah yang sangat cerah. Sudarsono Hardjosoekarto menyodorkan pemikiran learning leader, learning people dan learning organzitation. Sarlito W. Sarwono mengajak pemimpin untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat secara terus menerus dan melakukan upaya learning by doing.

Penguasa dan pengusaha kadang-kadang membuat ‘sikon’ menjadi sumir. Ketidaktahanan akan bujukan material sering membuat penguasa menjadi bermata lamur. Pemimpin harus mampu menekankan betapa pentingnya hal-hal yang bersifat immaterial.

Akan tetapi, Christianto Wibisono mengangkat betapa pentingnya meritokrasi dalam birokrasi pemerintahan untuk menghindari penguasa menjadi pengusaha atau sebaliknya. Kepentingan untuk diri sendiri dan kelompok sempitnya harus di bawah kepentingan negara dan umum.

Pada hakekatnya menurut Vincentius Y. Jolasa adalah ikhtiar untuk menghasilkan pemimpin yang tanggap dan sukses melalui pemaknaan kepemimpinan  yang ditopang oleh komunikasi transfromatif, kecakapan merancang, menerapkan dan berpartisipasi dalam dinamika sosial,ekonomi, dan politik yang dicita-citakan bersama.

Krishnanda W. Mukti mengajak kepimimpinan berbasis kesadaran bukan membuat orang menjadi tunduk, tergantung dan takut kepada pemimpin. Proses penyadaran dan kecintaan terhadap bangsa dan negara untuk menjadikan negara lebih bermartabat, terhormat, dan penuh dengan inovasi-inovasi adalah bagian inti dari pendidikan.

Itulah sebabnya Asep Saefuddin menekankan bahwa segala sesuatunya bermula dari pendidikan yang sangat esensial, bukan sekadar melatih keterampilan teknis.

Hemawan Kartajaya mengingatkan kita bahwa dunia sudah berubah dan akan terus berubah. Hanya bangsa yang pandai mengolah perubahan yang akan mampu bertahan dan menang dalam menghadapi tantangan.  

Dewasa ini dalam dunia bisnis saja harus menguasi nilai, value driven, yang mendekati pelanggan sebagai manusia utuh dengan kesatuan pikiran, perasaan, dan jiwa.

Selain itu, Sudhamek A.W.S. menyarankan bangsa untuk mampu membangun budaya kompetitif yang positif melalui pengembangan kepemimpinan unggul. Ronny Adhikarya mengusung pemikiran yang tidak ‘bekutet’ di dalam kotak, rutin dan pengap.

Akan tetapi, pemimpin harus mampu berpikir di luar kotak, thinking out of the box, dengan aplikasi ilmu menjadi tacit knowledge. Di situlah pentingnya motivasi seperti yang dibahas oleh Eko Legowo. Jiwa kewirausahaan sangat perlu untuk menjadi pemimpin dengan nilai-nilai agama sebagai dasar penguatan mental.

Haidar Bagir menyadari betapa pentingnya cinta dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dikatakan Rumi bahwa cinta adalah pengggerak segalanya.

Ricardi S. Adnan menganalisis bahwa masih besar kesenjangan di dunia politik, terutama antara janji kampanye dan realisasinya.  Politik memang sangat perlu di dalam sebuah negara. Namun, tanpa landasan kejujuran dan niat baik mambangun bangsa secara kokoh politik hanya akan membuat masyarakat nelangsa.

Untuk itu perlu ada dialog terus menerus antarmasyarakat dan pemimpin. St. Sularto menyarankan perlu adanya pemimpin penuh kharisma untuk mengurangi kesenjangan antara keadaan saat ini (das scin) dan das sollen (keadaan ideal yang diinginkan). Bab ini ditutup oleh Tu Weiming yang menyarankan agar kita tidak sekedar manusia antropologis tetapi total kosmologis.

Bab II berjudul Tarian Pangan, Energi dan Kewirausahaan itu merupakan pemikiran para ahli bagaimana secara riil pemimpin menghadapi kenyataan dunia. Pembangunan pertanian adalah awal dari peradaban. Peperangan juga bisa berawal dari persoalan pangan sehingga tidak salah kalau the angry man adalah the hungry man.

F. Welirang menerangkan bahwa persoalan pangan dan pertanian sangat kait mengait dengan berbagai faktor lainnya di dunia.  Di sinilah betapa pentingnya kebijakan unity in diversity. S. Nagarajan, saintis pertanian India, menulis tentang belajar dari India, menegaskan bahwa India dengan penduduk 1,1 miliar itu sedang menikmati ketahanan pangan yang terus harus dibangun melalui tarian-tarian ilmu pengetahuan untuk kehidupan.

Kaman Nainggolan menjelaskan tujuh masalah strategis yang memerlukan kebijakan integratif dan pemimpin yang siap melayani. Sejalan dengan Subejo yang menekankan bahwa keadaan ini menuntut pemimpin yang mempunyai visi jauh ke depan.  Dipertegas oleh Soemarno bahwa upaya kesinambungan dan kearifan dalam mengelola Bunda Alam, the mother of nature.

Fransika Z. Rungkat membahas tentang pangan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia yang tidak pernah bisa ditunda, karena manusia tidak bisa menimbun pangan di dalam perutnya. E. Gumbira Sa’id menyarankan adanya kepemimpinan inovatif berbasis agribisnis dna agroindustri.

Untuk itu diperlukan peran litbang dalam membangun komoditas unggulan nasional, misalnya, kelapa sawit. Saran tambahan dari Rachmat Pambudy adalah kepemimpinan entrepreneur dalam sistem agribisnis.

Di dalam perlombaan kemandirian pangan dunia, tidak pelak lagi merembet ke persoalan pemanasan global seperti yang disitir Purwiyatno Hariyadi. Dus,  semua jenis pembangunan, termasuk pertanian diperlukan kepemimpinan yang prolingkungan hidup.

Perguruan tinggi mempunyai kesempatan emas untuk menata ulang ranah keilmuan agar tidak terlalu terkotak-kotak sehingga menjadi kaku. Persoalan lingkungan adalah persoalan dunia yang harus dihadapi secara interdisiplin bahkan transdisiplin.

Didiek H. Goenadi mengupas pentingnya hubungan antara teknologi dan langgam keilmuan. Teknologi seperti ini dihasilkan oleh sebuah aktivitas riset yang fokus dan aplikatif untuk dunia usaha. Sinkronisasi ini bagaikan orkestra yang enak didengar dan menyejukkan sesuai dengan harapan pengguna iptek seperti yang diulas oleh L. Wijayanti.

Arnold Soetrisnanto menyarankan perluasan porsi green energy yang semakin urgen dirasakan, apalagi setelah ada betapa hebatnya efek stunami di Jepang terhadap rusaknya stasiun energi nuklir di Fukuyama.  Hal ini selaras dengan pandangan Clara M. Kusharto untuk memperhatikan isu-isu global yang berkaitan dengan kesehatan.  

Dalam pandangan Bambang Ismawan, semua kegiatan pembangunan ini tidak bisa menihilkan peranan masyarakat agar terjadi keoptimuman hasil.

Bab III berjudul belajar arif dari orang sederhana isinya merupakan kumpulan kisah-kisah bijak baik berupa kisah nyata atau bukan yang secara esensial sangat baik untuk kehidupan masa depan.  Kisah-kisah ini dikemas dengan cerdik oleh Muhammad Muhajirin dan Paul K. Somalinggi.

Belajar dari kisah nyata dan probe ini diharapkan dapat membangun rasa bijak kita yang semakin dituntut dalam peradaban yang semakin kompleks.  Adapun Bab IV berisikan makalah-makalah dan diharapkan merujuk ke sebuah titik. Akan tetapi, tetap belum tercapai titik karena perjuangan TDL saat ini baru koma.

Punawan Junadi menyodorkan sebuah transformasi dengan friksi minimal, cerdas dan sehat. Lalu dipertegas oleh Irid Agoes betapa pentingnya pemahaman antarbudaya sebagai jendela perdamaian dunia.

Tim editor menyadari bahwa TDL ini harus diteruskan oleh TDL-TDL berikutnya yang semakin menukik dan operationable.

Di dalam bab terakhir ini disisipkan epilog-epilog. Misalnya, Siswono Yudo Husodo membuat epilog tentang revitalisasi dan reinterpretasi nasionalisme. Disusul oleh epilog Joko Widodo yang menyarankan agar pemimpin harus belajar sabar dari masyarakat. Dilanjutkan oleh Jusuf Sutanto yang mengangkat epilog tentang berguru dari para leluhur dan menemukan alam di dalam tepung beras. Sebagai negara berbasis kepulauan, Arif Satria menyodorkan konsep kepemimpinan lautan.

Buku ini diharapkan dapat menjadi landasan berpikir holistik dan transdisiplin menghadapi persoalan dunia yang cenderung semakin rumit. Mereka yang berada di dunia pendidikan dan keilmuan tidak bisa berdiri di ruang hampa dan kering dari pengalaman.

Mereka yang berada di lapangan tidak mungkin menganggap remeh ilmu pengetahuan. Keduanya saling mengisi dan membutuhkan.

Mesin ilmu pengetahuan akan berjalan dengan baik bila diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dus, para pemimpin harus memahami kedua aspek tersebut atau dalam bahasa lain pemimpin harus mampu berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

Selain itu, para pemimpin dan seluruh masyarakat janganlah merasa bosan untuk terus mendengungkan kecintaan terhadap Indonesia.

"Jangan panggil Septi monyet", inspirasi mondial dari Nusantara

Manusia perlu inspirasi dalam hidup. Mudah mendapatkan inspirasi itu, asal ada kepekaan hati dan kerendahan hati untuk memetik dari hal sekitar. Panca indera, hati, dan kalbu wahana andal mengantar ke sana.

Ada hal baik dari masyarakat Amerika Serikat, negara yang multi etnis dan (sebetulnya) berasal dari banyak bangsa-bangsa di dunia. Segala sesuatu bisa jadi inspirasi mereka, dan… pahlawan di hati. Indonesia juga bangsa besar yang penuh dengan sumber inspirasi.

Demikianlah, Septiningsih Abdul, bocah perempuan 10 tahun berbadan sehat dan senang bermain laiknya anak-anak pada usianya. Di kampung halamannya, di Desa Tilongobula, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dia tinggal bersama dua saudara dan ibunya.

Mereka berempat saja, sebagaimana dijadikan judul buku besutan terbaru Kantor Berita ANTARA. "Jangan Panggil Septi Monyet", cukup mencolok mata karena nama anak itu dikorelasikan dengan monyet, hewan liar yang bisa menggelikan dan sering jadi olokan.

Buku kumpulan karya jurnalistik Kantor Berita ANTARA setebal 247 itu bukan semata berkisah tentang Septi, yang dinyatakan dalam bahasa bertutur penulisnya, Debby H Mano (jurnalis ANTARA di Biro Gorontalo), memang ditumbuhi rambut tebal seperti tubuh kera.

Bukan tentang kondisi fisik Septi itu yang jadi bahasan dan tuturan arus utama bagi Mano, karena perjuangan hidup sang ibu, Fatma, dalam membesarkan Septi. Ini satu bingkai perjuangan dan inspirasi hidup: ditinggalkan suami karena anak serupa kera hingga khazanah jauh dari jangkauan pikir akan ucapan yang jadi kenyataan.

Septi yang dikaruniasi alam dalam tubuh serupa itu, malah menuai berkah dalam bentuk berbeda. Dia sangat disayang guru-gurunya di SD Dumbaya Bulan. Dia diyakini adalah anak yang memerlukan kasih sayang dan mandiri.

"Jangan Panggil Septi Monyet" memenuhi janji judulnya kecuali kilasan tentang masa depan atau cita-cita yang ingin dicapai Septi. Buku itu sendiri terdiri dari 46 tulisan berlanggam karangan khas Kantor Berita ANTARA koleksi 2007-2011.

Seluruh tulisan itu tidak pernah berkisah tentang orang-orang besar atau ternama, apalagi pejabat. Para tokoh yang dituturkan dalam buku itu memberi nilai-nilai pembentuk karakter.

"Nilai-nilai itu hendaknya menjadi kebiasaan karena pada akhirnya akan mengubah perilaku kita. Perilaku yang terus-menerus akan membentuk karakter baru yang selaras dengan prinsip-prinsip universal itu," kata Direktur Utama Perusahaan Umum Kantor Berita ANTARA, Ahmad Mukhlis Yusuf, dalam prakatanya di buku bersampul anak menggapai kupu-kupu itu.

Anak-anak selalu memberi harapan dan banyak orang sangat gemar menyentuh, membelai dan menciumi anak-anak. Septi juga begitu, walau dia diemohi ayah kandungnya…

Septi bukan sendirian, karena masih ada lelaki pemberani yang menyulam hidup dari titian jalan terjal dan berbahaya untuk menambang bongkah-bongkah belerang. "Kaum Lelaki Pemburu Belerang 1-3" lahir dari jemari dan kalbu Masuki M Astro, editor Kantor Berita ANTARA di Bondowoso, Biro Surabaya.

Mutasir (40), ayah bagi empat anak asal Banyuwangi jadi tokoh sentral pembuka kisah itu. Dia memang bukan siapa-siapa, cuma buruh penggali bongkah belerang dari kawah Gunung Ijen, Jawa Timur. Cara dan komitmennya menghidupi keluarganya sungguh kisah yang bisa mendirikan bulu roma sekaligus miris di hati.

Di ketinggian 2.300 meter dari permukaan laut, dia menggali bongkah belerang hingga 90 kilogram dalam pikulan. Beban berat sudah jadi beban tersendiri ditambah jalan terjal dan gersang serta bahaya keracunan asap belerang yang amat sangat korosif itu.

Ruang kerjanya seperti imaji dalam film-film sains fiksi, berlatar kuning dan kemerahan, hingga ke udara dari mana udara itu memenuhi rongga paru-parunya bernafas. Dia cuma tamatan kelas 2 SD saja, yang jelas masuk dalam golongan tidak berpendidikan dalam sistem kategorisasi warga di mata pemerintah.

"Pokoknya anak saya harus sekolah, sampai kuliah juga. Semua yang saya kerjakan sekarang saya tabung untuk sekolah anak saya….," kata-kata itu terucap dari mulut wajahnya yang terpasang lebih tua dari usia sejati.

Dia punya usaha, dia punya ikhtiar, dia punya kepasrahan, dan dia punya cita-cita… Cita-cita yang dia sangat jaga dari kejatuhan sejalan jalan sempit, licin, yang terjal, yang dia titi setiap saat menuju puncak.

Dalam kesesakan hidup, dia tidak pernah berpikir untuk ingkar dari kesetiaan hidup. Dia memberi contoh, dan dia adalah Mutasir, cuma sekedar buruh galian belerang di Gunung Ijen.

Buku ditutup dengan kata kiasan: mutiara akan terus berkilau meski di tempat yang gelap.

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday265
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week423
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2591
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153794

We have: 69 guests online
Your IP: 23.20.162.200
 , 
Today: Nov 20, 2017