10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Budaya

Yu Dukung Earth Hour

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN

Beberapa tahun belakangan,  malem ada anjuran untuk mematikan lampu 1 jam saja. Kampanye ini domotori oleh WWF (World Wildlife Fund) yang diawali di Sidney, Australia dan kemudian ditularkan ke berbagai kota-kota di dunia. Selanjutnya, kampanye ini dinamakan Earth Hour untuk mengambil tindakan terhadap isu arus perubahan iklim dunia.

Sejak 2009, Jakarta sudah mulai dikenalkan dengan kampanye ini. Partisipasi masyarakat, walau belum membumi namun sudah mendapat respons yang lebih baik.

“WWF Indonesia mengajak semua pihak, mulai dari pemerintahan, korporasi, bisnis, media massa, komunitas, mahasiswa, dan pelajar untuk saling menyemangati, mengingatkan, dan merasakan manfaat Earth Hour dari tahun ke tahun,” tulis WWF dalam situsnya.

Tahun ini, EARTH HOUR keempat kalinya diselenggarakan di Indonesia. WWF-Indonesia bersama Gubernur Propinsi DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengajak publik Jakarta untuk tetap berpartisipasi mematikan lampu dan peralatan listrik yang tidak sedang dipakai selama 1 jam pada hari Sabtu, 31 Maret 2012, jam 20.30 – 21.30 (waktu setempat).

“Saya bangga semakin banyak masyarakat Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia menjadi bagian dari gerakan lingkungan hidup terbesar di dunia ini. Sebagai komitmen Pemerintah Propinsi DKI Jakarta terhadap lingkungan hidup, saya nyatakan Jakarta siap mewujudkan pola hidup warganya untuk hemat energi dan ramah lingkungan. Dan, saya juga mengajak seluruh kota-kota di Indonesia berpartisipasi dalam EARTH HOUR 2012.”
Jakarta kembali meneruskan komitmen memadamkan lampu di 5 (lima) ikon kota, lampu sepanjang jalan utama, dan papan reklame milik Pemerintah Propinsi DKI Jakarta pada hari Sabtu, 31 Maret 2012, jam 20.30 – 21.30 (waktu setempat), yaitu:

  1. Gedung Balai Kota Propinsi DKI Jakarta
  2. Monas dan air mancurnya
  3. Bundaran Hotel Indonesia dan air mancurnya
  4. Air mancur Arjuna Wiwaha
  5. Patung Pemuda
  6. Lampu jalan sepanjang Jalan Jenderal Sudirman – Jalan MH Thamrin
  7. Lampu jalan sepanjang Jalan Gatot Subroto – Jalan HR Rasuna Said
  8. Lampu papan reklame milik Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Selain itu, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta juga mengeluarkan surat himbauan kepada para pemilik atau pengelola gedung-gedung sepanjang Jalan MH Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan HR Rasuna Said, untuk berpartisipasi dalam gerakan ini dan menjadikannya sebagai kebijakan yang berpihak pada efisiensi energi.

Sumber : Pemda DKI, WWF Indonesia
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Kakek / Nenek Bertanduk di China

China, SUARA PEMBANGUNAN

Seorang kakek berusia 84 tahun yang bernama Huang Yuanfan, memiliki tanduk aneh berukuran tiga inci atau tujuh sentimeter dari daerah Ziyuan, China Selatan dan menjadi perbincangan di dunia kesehatan.

Yuanfan bercerita, tanduk di kepalanya mulai tumbuh sejak dua tahun lalu. Sejak itu tanduknya terus tumbuh. “Saya mencoba memotongnya tetapi terus tumbuh. Saya tak dapat mengubahnya, makin besar,” ujarnya seperti dimuat laman metro.co.uk.

Namun, tanduknya tak bisa tumbuh lebih tujuh sentimeter. “Dokter tak mengetahui apa yang terjadi pada saya. Saya menyembunyikan tanduk dengan mengenakan topi tetapi khawatir akan mencuat bila bertambah panjang,” kata Yuanfan.

Maret lalu, seorang nenek di negara itu juga mengalami hal serupa. Zhang Ruifang, nenek 101 tahun, pertama kali menyadari ada tanduk sepanjang enam sentimeter di sisi kiri dahinya pada 2009. Ia pun merasa dahi sebelah kanannya juga mulai tumbuh tanduk.

Wanita asal Linlou, China bagian timur, itu menolak memotong tanduknya. “Awalnya, saya tidak dapat tidur. Tetapi sekarang saya merasa biasa saja. Banyak orang yang datang membawa hadiah dan makanan hanya untuk memotret tanduk saya.”

Putra bungsu Zhang Guozheng, 60, mengatakan, dia dan lima saudaranya frustasi membujuk sang ibu bersedia menghilangkan tanduk di kepalanya. “Kami hanya berusaha agar tidak terlambat hingga tanduknya melekat selamanya di sana. Mungkin sudah menjadi takdirnya,” ujarnya.

Diperkirakan, tanduk yang tumbuh di kedua kepala lansia asal China itu berasal dari keratin, substansi yang sama seperti kuku. Meskipun kulit tanduk hanya beberapa milimeter, pada beberapa orang pertumbuhan ini bisa mencapai beberapa sentimeter.

Sumber : vivanews.com
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Radang Paru Menyerang Baduy Dalam

Lebak- Banten, SUARA PEMBANGUNAN

Radang paru merebak di Kampung Cibeo dan Kampung Cisadane, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Akibatnya, empat anak berusia 1-12 tahun di Kampung Cibeo dan satu anak di Kampung Cisadane meninggal.

Selain itu, juga ada sembilan anak di perkampungan Baduy yang menderita radang paru dan 27 anak yang terkena batuk. Kondisi ini dinyatakan sebagai kejadian luar biasa.

Kepala Bidang Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dokter Sri Agustina Sinuhaji, di Kanekes, Leuwidamar, Kamis (1/3), mengatakan, kasus pertama kali meninggalnya anak di Cibeo itu terjadi sekitar sebulan lalu.

Namun, pihaknya baru mendengar kabar itu pada Senin lalu. Keesokan harinya, petugas kesehatan dari Puskesmas Cisimeut, dibantu dokter dari Puskesmas Leuwidamar, mendatangi Kampung Cibeo untuk mengecek kabar tersebut.

Petugas juga menemukan adanya anak yang menderita batuk disertai sesak napas dan demam. Selain itu, dari cerita warga setempat juga diketahui bahwa sebelumnya ada anak-anak yang meninggal di Kampung Cibeo.

”Penyakitnya, dari keterangan gejala yang dilaporkan masyarakat, adalah bronkopneumonia atau radang paru-paru,” kata dokter Ryan Ardian Saputra.

Petugas pada Selasa dan Rabu lalu mengobati anak-anak di Baduy yang menderita pneumonia dan batuk. Dalam beberapa hari mendatang, petugas akan kembali masuk ke Baduy Dalam untuk memonitor perkembangan anak yang diobati.

Keterbatasan petugas

Terkait lambat terdeteksinya kasus radang paru sehingga mengakibatkan lima anak meninggal, Sri mengakui adanya keterbatasan petugas sehingga tidak bisa setiap saat masuk ke Baduy Dalam.

Petugas rutin melakukan kunjungan ke perkampungan di Baduy Dalam tiga bulan sekali. Pada kunjungan rutin terakhir, Desember lalu, belum ada laporan mengenai kasus radang paru. Sementara di perkampungan selain Baduy Dalam, setiap bulan digelar posyandu.

Menyusul kasus meninggalnya lima anak akibat radang paru yang lambat terpantau, Sri mengatakan, peningkatan frekuensi kunjungan petugas kesehatan akan dipikirkan Pemerintah Kabupaten Lebak, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau, seperti Baduy Dalam.

Di sisi lain, pihaknya akan melakukan pendekatan ke masyarakat Baduy, yakni melalui tokoh atau puun, supaya warga mau segera melapor jika terjadi sesuatu sehingga petugas kesehatan bisa segera menangani.

”Di luar kunjungan rutin tiga bulan sekali, petugas akan datang setiap saat bila ada kabar terjadi kasus penyakit yang menimpa warga. Tetapi, kami dalam sebulan terakhir sama sekali tidak mendapat kabar itu,” kata Kepala Puskesmas Cisimeut Halwani.

Jangkauan layanan Puskesmas Cisimeut meliputi enam desa, termasuk Desa Kanekes yang merupakan permukiman warga Baduy.

”Hanya ada satu dokter dan 11 bidan di puskesmas ini sehingga tidak setiap waktu kami dapat mendatangi kampung-kampung,” kata Halwani.

Sebagai gambaran, dibutuhkan waktu 3-4 jam berjalan kaki dari Puskesmas Cisimeut ke perkampungan Cibeo melalui Ciboleger.

Saat ditanya kemungkinan menambah fasilitas kesehatan di dalam wilayah Baduy agar warga lebih mudah menjangkaunya, Kepala Desa Kanekes Jaro Dainah mengatakan, masukan itu sudah disampaikan kepada warga, tetapi warga menolak.

Sumber : kompas.com
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Ningxia Hui, Provinsi Muslim di China

Ningxia Hui, SUARA PEMBANGUNAN

"Ahlan wa sahlan (selamat datang)," sambut Aisyah dengan ramah. Lalu perempuan berkerudung merah jambu itu 'nyerocos' dalam bahasa Arab.

Aisyah bukan orang Arab, melainkan seorang warga China dari etnis Hui. Etnis ini merupakan 1 dari 56 etnis di China, yang masuk kategori minoritas. Etnis Hui beragama Islam, termasuk Aisyah.

China memiliki luas 9,5 juta meter persegi dan merupakan negara terluas ketiga di dunia, setelah Rusia dan Kanada. Menurut sensus 2010, penduduknya 1,34 miliar terdiri dari 56 suku, suku terbesar adalah Han. Nah, dari penduduk sebanyak itu, 20 juta di antaranya beragama Islam yang mayoritas dipeluk etnis Hui.

Selain memiliki 23 provinsi, negeri raksasa itu juga memiliki 5 daerah otonomi yang berpenduduk etnis minoritas yaitu Xinjiang, Tibet, Mongolia Dalam, Guangxi dan Ningxia Hui.

Bagi Muslim Indonesia, Ningxia Hui -- kawasan terbesar di China yang dihuni suku Hui -- tentunya terasa memiliki ikatan emosional tersendiri. Sebab 34 persen dari 6,32 juta warga daerah otonom itu beragama Islam. Daerah otonom berhak mengatur pemerintahannya berdasar adat kebiasaan suku minoritas tersebut.

"Ningxia disebut provinsi Muslim di China," kata Haji Yusuf Suyang, Rektor Sekolah Tinggi Islam Ningxia, saat menerima wartawan detikcom, Kompas, The Jakarta Post, LKBN Antara dan TVRI, di kampusnya di Yinchuan, ibukota Ningxian, Jumat (16/3/2012). Kunjungan ini difasilitasi oleh Kemlu China, dalam rangka menyambut kedatangan Presiden SBY pada 22-24 Maret nanti.

Nah, Aisyah adalah pengajar bahasa Arab di sekolah tersebut. Sebagaimana pengajar di kampus tersebut, dia lihai berbahasa Arab, namun tidak bisa berbahasa Inggris.

Sekolah Tinggi Islam tersebut dibangun pada 1985 dan saat ini memiliki 400 mahasiswa yang belajar Alquran, Hadist, bahasa Arab, sejarah Islam, sejarah Hui, sejarah China, ekonomi, hukum, dsb.

Semuanya adalah pria dan tinggal di asrama mirip pesantren. Mereka hanya membayar SPP saja selama studi 4 tahun, sedangkan akomodasi ditanggung sekolah. Sekolah juga memberi beasiswa 100 persen kepada 200 imam masjid untuk belajar di situ.

Partai Komunis China yang berkuasa mengakui 5 agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Tao dan Buddha. "Sejak Tiongkok berdiri, kepentingan Muslim dilindungi dan sudah masuk dalam UUD. Meski China negeri non-muslim, tapi kepentingan Muslim dilindungi pemerintah pusat dan lokal," kata Haji Yusuf Suyang.

Sekolah yang dipimpinnya tersebut berada di bawah pemerintah pusat namun dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Sekolah itu juga didukung oleh organisasi Islam dunia, seperti Bank Pembangunan Islam.

 

Sekolah bertugas mencetak tokoh-tokoh Muslim untuk membangun Muslim yang lain. "Lulusan dari sekolah ini akan ditugaskan di berbagai masjid," ujarnya.

Pemerintah pusat dan lokal secara berkala menggelontorkan dana kepada sekolah itu, termasuk menggaji para pengajar dan staf. Sekolah tersebut juga bekerja sama dengan institusi pendidikan asing, seperti Mesir dan Malaysia. "Kerja sama dengan Indonesia belum ada," ujarnya.

Sekolah tersebut hanya menerima mahasiswa pria, sedangkan bila ada wanita yang tertarik belajar Islam, maka bisa melanjutkan ke Universitas Ningxia yang memiliki jurusan agama Islam. "Dua saudara perempuan saya juga belajar di sana," kata Haji Yusuf Suyang.

Muslim setempat, kata dia, memiliki nama Islam selain nama China. Nama Islam itu lazimnya diberikan oleh imam masjid kepada bayi yang baru lahir. Misalnya Suyang yang mendapat nama Islam, Yusuf. Nama Islam diletakkan di depan, lalu disambung nama China.

Terkait pertumbuhan Muslim di Ningxia, Yusuf Suyang menceritakan, ketika RRT berdiri pada 1949, jumlah warga Ningxia 750 ribu orang dan sebanyak 400 ribu di antaranya beragama Islam. Ketika Ningxia Hui menjadi daerah otonomi pada 1958, jumlah penduduknya menjadi 1,5 juta. Sekarang, jumlah penduduk 6,3 juta dan 2,2 di antaranya Muslim (34%). "Jadi pemeluknya naik 3 kali lipat," ujarnya.

Yusuf Suyang juga mengajak wartawan memasuki sebuah kelas yang tengah belajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab. Sang dosen lalu menyuruh seorang mahasiswa unjuk kebolehan dengan membaca buku dalam bahasa Arab. Mahasiswa lainnya disuruh membaca Alquran. Mereka membaca dengan lancar.

Wakil Dirjen Hubungan Luar Negeri Ningxia Hui, Zhang Yexing, di tempat terpisah, menyatakan, sebagai daerah otonomi etnis minoritas, Ningxia Hui memiliki kebijakan yang harus disesuaikan dengan kebiasaan dan kebudayaan etnis minoritas tersebut, dalam hal ini suku Hui yang Muslim.

"Di China, 9 persen penduduk adalah etnis minoritas (sisanya etnis Han). Meski hanya 9 persen, namun itu cukup besar karena China memiliki penduduk yang besar. Pemerintah China memperhatikan keharmonisan. Etnis minoritas justru menikmati kebijakan yang lebih menguntungkan dibanding etnis Han," paparnya.

Pejabat di daerah otonomi tersebut, harus berasal dari etnis minoritas tersebut. Misalnya saja, Ketua Daerah Otonomi Ningxua Hui (setara gubernur), beragama Islam. Demikian juga Walikota Yinchuan, ibukota Ningxia Hui, juga beragama Islam.

Region seluas 66.400 meter persegi ini memiliki musim dingin yang panjang yaitu 6 bulan. Hawa terdingin pada bulan Januari berkisar minus 10 derajat Celcius dan terhangat 24 derajat Celcius. Meski dingin, angin terasa kering yang membawa debu-debu dari gurun pasir.

"Kami memiliki 4.000 masjid. Jadi kalau Muslim Indonesia ke sini, silakan salat dengan leluasa," undang Zhang sembari tersenyum.

Wahh.... tampaknya Ningxia Hui cocok menjadi tujuan wisata Muslim Anda di liburan mendatang.

Sumber : detiknews.com
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

MENAG MINTA MEDIA MASSA BERIMBANG MEMBERITAKAN FPI

Jakarta. SUARA PEMBANGUNAN

Menteri Agama Suryadharma Ali menyarankan sebaiknya media massa lebih berimbang dalam memberitakan masalah organisasi masyarakat yang anarki, terlebih untuk Front Pembela Islam (FPI) yang sekarang sedang `hangat` diperbincangkan.

"Sebaiknya media massa juga lebih jernih dalam memilah penyebab wacana itu (pembubaran FPI) muncul," katanya kepada wartawan di Pekanbaru usai meletakkan batu pertama pembangunan Asrama Haji Riau, Sabtu.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga mengatakan tidak begitu yakin dengan berbagai pemicu, yang kemudian menimbulkan wacana pombubaran untuk organisasi Islam tersebut.

"Jujur, saya kurang yakin kalau kasus penolakan FPI di Palangkaraya yang menjadi pemicu wacana pembubaran FPI. Mungkin saja ada penyebab atau kepentingan lainnya," kata dia.

Oleh karena itu, kata Suryadharma, sebaiknya media massa sebagai penyampai informasi rakyat dapat lebih jernih menyikapi kasus ini.

"Setidaknya, selain meminta pendapat pengamat atau pihak-pihak yang dirugikan, media massa juga selayaknya meminta komentar FPI. Karena bagaimana pun pemberitaan itu terkait FPI," ujarnya.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya tetap mendukung penegak hukum dalam menindak tegas oknum ormas yang selalu mengedepankan kekerasan.

"Kalau memang oknum di tubuh ormas termasuk FPI terbukti telah melakukan tindak kekerasan, saya setuju mereka ditindak," katanya.

sumber : antaranews.com

posting : ekaryana@suarapembangunan

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday86
mod_vvisit_counterYesterday114
mod_vvisit_counterThis week86
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2254
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153457

We have: 18 guests online
Your IP: 54.224.121.67
 , 
Today: Nov 19, 2017