10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Budaya

Murry Koes Ploes Meninggal

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Penggebuk drum band legendaris Koes Plus Kasmurry atau lebih dikenal dengan Murry menghembuskan nafas terakhirnya pagi tadi. Belum diketahui penyebab meninggalnya Murry, namun rencananya jenazah Murry akan dimakamkan di TPU Pondok Rangoon, Jakarta Timur siang nanti.

"Jenazah akan dimakamkan di Pondok Rangoon, usai salat Zuhur," kata Viva Yoga Mauladi kepada wartawan, Sabtu(1/2/2014).

Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Kasmurry atau lebih dikenal Murry merupakan salah satu anggota personel Koes Plus pertama.

Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka, walaupun hanya tinggal Yon yang aktif.

Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pemusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex's Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T'lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayang yang dibawakan oleh Kahitna.

*sumber : tribunnews.com

Gugun Gondrong Jualan Kripik

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.
Sebagai mantan presenter dan MC kondang, Gugun terus berharap suatu hari nanti bisa kembali membawakan acara dan menghibur banyak orang dengan banyolan-banyolan khasnya. “Kalau kangen, ya kangen ingin jadi presenter lagi,” kata Gugun, yang sudah tak lagi berkomunikasi dengan rekan-rekannya di dunia hiburan.

Tak hanya itu, penyuka klub Persija Jakarta ini ingin memanjangkan rambutnya lagi. Kendati sudah selama 5 tahun, tak ada lagi rambut panjang tumbuh di kepalanya. “Mau gondrong lagi,” papar Gugun, yang di beberapa bagian rambutnya telah tampak uban.

Menurut ibunya, Tuning Sukobagyo, anaknya justru terlihat awet muda dengan rambutnya yang pendek dan tersisir rapi. “Mas Gugun, kalau kata saya, lebih bagus (berambut) pendek. Lebih muda, kan,” kata Tuning seraya menatap wajah putra kesayangannya itu.

Praktis Gugun tak lagi bekerja sebagai seorang entertainer sejak sakit parah. Lalu bagaimana ia membiayai hidupnya? “Sekarang walaupun kondisinya sudah membaik, Mas Gugun kenyataannya belum bisa bekerja,” tutur Tuning pelan. Selama Gugun tak bekerja, keluarga besar mencoba mencari jalan untuk biaya kehidupan Gugun, mulai dari biaya suster atau perawat, biaya fitness, dan tentunya biaya perawatan kesehatan Gugun seperti periksa dokter dan obat-obatan. “Keluarga kami mencari peluang apa saja supaya bisa mendapatkan uang untuk Mas Gugun,” imbuh sang ibu.

Sang ibu sadar akan trademark nama Gugun Gondrong. Melihat peluang bisnis, ia menawarkan kepada beberapa orang untuk menggunakan nama Gugun Gondrong sebagai nama bisnis atau usaha mereka. “Soal usaha apa, itu tergantung pada orang-orang,” katanya lagi. Keluarga Gugun mencoba peruntungan dengan menjual kudapan ringan berupa keripik dengan merek Cemilan Sehat Gugun Gondrong. Keripik itu dijual di beberapa acara, seperti bazar, pengajian, hingga arisan yang dikunjungi banyak orang. Keuntungan yang didapat, menurut Tuning, paling tidak bisa membiayai kehidupan Gugun saat ini. “Lumayanlah, biasanya ibu-ibu yang membeli,” kata sang ibu, yang sudah ikhlas Gugun sampai sekarang belum bisa bekerja.

*sumber : liputan6.com

2 Tahun lagi Nasib internet

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Sebuah komisi independen yang dipimpin oleh mantan Menteri Luar Negeri Swedia, Carl, Bildt, akan menyelidiki tentang kelanjutan masa depan internet yang disebabkan oleh bocoran file NSA Edward Snowden.

Penyelidikan ini akan dilakukan dengan perkiraan waktu selama 2 tahun ke depan dan diumumkan pada Forum Ekonomi Dunia di Davos. Perlu diketahui, kebebasan serta sensor internet di setiap negara menjadi fokus utama dalam hal ini, seperti yang dikutip dari The Guardian (22/1).

"Evolusi yang cepat dari internet telah membuat semuanya berkembang pesat dengan model fleksibel. Tapi semakin ke sini, semakin banyak serangan," ujar Bildt.

Sebelumnya, Tim Berners-Lee, penemu Word Wide Web (www), mengungkapkan bahwa ada ancaman besar pada internet. Dia juga mengatakan bahwa ancaman tertentu ini diajukan oleh beberapa pihak yang mencoba terhubung dengan internet secara diam-diam.

Berdasarkan penyelidikan ini, pihak Bildt menyatakan dengan tegas bahwa internet sebentar lagi akan benar-benar berubah. Sebab penyelidikan tersebut akan menguak masalah lain yang lebih penting dan belum terjamah. NSA pun dikatakan bukan satu-satunya lembaga pemerintah yang melanggar privasi individu di seluruh dunia.

*sumber : merdeka.com

104 Peluru ditembakkan Ketubuh Orang Hutan

Orangutan yang di tubuhnya terdapat lebih dari 100 peluru kini sedang melalui proses pemulihan. Aan, si orangutan itu, ditembaki oleh pemuda setempat menggunakan senapan angin karena ia berkeliling di sekitar kebun kelapa sawit di Kalimantan.

Orangutan tersebut, yang diperkirakan berusia 15 tahun, diselamatkan oleh petugas konservasi. Mereka menemukan ada 104 peluru bersarang di organ vital Aan, termasuk mata dan telinga.

X-ray menunjukkan betapa mengerikannya perlakuan kejam para penembak Aan. Dokter hewan berhasil mengangkat 37 peluru dari kepalanya, dan 67 peluru lagi dari tubuhnya.

Mengerikan: X-ray menunjukkan lebih dari 30 peluru di kepala Aan (SWNS)

Orangutan yang terancam punah ini mengalami kebutaan setelah serangan beruntun. Aan menjalani prosedur selama tiga jam untuk menangani luka tembak dan kini mulai pulih.

Zulfiqri, dokter hewan dari Orangutan Foundation yang berbasis di Inggris, mengangkat 32 peluru senapan angin di tubuh dan kepala Aan dalam operasi yang berlangsung di kantor BKSDA Kalimantan Tengah di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Aan kini sudah bisa makan dan minum serta "menunjukkan ketahanan luar biasa atas semua yang telah ia lalui".

Sayangnya, Aan mengalami kebutaan. Pemindaian pun menunjukkan masih ada selusin peluru yang tertanam di dalam atau sekitar matanya. Air dan makanan pun harus disentuhkan atau ditaruh langsung di tangannya.

Yayasan Orangutan mengatakan Aan tak mungkin dilepas lagi ke alam liar karena dia akan menjadi sasaran empuk buat para pemburu dan petani yang marah dan melihat orangutan sebagai hama.

Kisah Aan adalah contoh tragis lain akan nasib yang harus dihadapi oleh orangutan karena habitat mereka hancur.

Meski keberadaannya dilindungi oleh hukum, orangutan hidup di kawasan hutan tropis yang hancur oleh pembalakan dan konversi ke kebun sawit.

Harapannya, kisah Aan bisa meningkatkan kesadaran akan betapa kejamnya kondisi yang harus dihadapi oleh orangutan di alam liar, selain juga mendorong diberlakukannya hukuman berat buat mereka yang memburu dan membunuh hewan terancam punah.

Awal tahun ini, empat pria dipenjara selama 8 bulan karena menembaki dan memukuli tiga orangutan serta satu monyet hidung panjang sampai mati di Kalimantan Timur.

Bambang Hartono, kepala balai konservasi lokal, mengatakan, "Semoga Aan kini merasa lebih nyaman berada di hutan, meski hidup dalam kandang besar."

"Bersama dengan Orangutan Foundation, kami akan mencari cara terbaik agar Aan bisa terus hidup."

Ashley Leiman OBE, direktur Orangutan Foundation menambahkan: "Kami sudah bekerja di Kalimantan selama 20 tahun, tapi tak pernah harus menyelamatkan tiga orangutan dalam empat hari. Penyebab kenaikan intensitas ini bisa jadi karena berkurangnya habitat orangutan atau karena semakin banyak orang yang melapor soal orangutan ke badan konservasi, sedangkan sebelumnya bisa saja mereka langsung membunuh si orangutan."

Sumber : yahoonews.com

Kemendikbud Canangkan Perang Terhadap Film Murahan

Semarang, SUARA PEMBANGUNAN.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, siap memerangi film-film murahan yang tidak menggali nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan nasionalisme menuju daya saing global. "Kami siap perangi film-film murahan melalui literasi dan apresiasi film," kata Kasubdit Literasi dan Apresiasi Film, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Kemendikbud Subantoro di Semarang, Selasa (06/11/2012) malam.

Hal tersebut diungkapkannya usai pembukaan workshop "Peningkatan Kualitas Produksi Film 2012" di Semarang yang berlangsung 6-9 November 2012 diikuti sebanyak 50 pegiat film dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Menurut Subantoro, upaya literasi yang dimaksudkan adalah mendidik masyarakat agar "melek" film sehingga mereka tidak sekadar menonton film, tetapi mampu bersikap dan mencermati film-film yang ditontonnya.

"Upaya literasi ini kami lakukan melalui banyak kegiatan, misalnya workshop film seperti ini, seminar yang mengkaji film-film, kemudian bedah film. Dengan cara ini, kami ingin masyarakat `melek` film," katanya.

Ia mengungkapkan masyarakat yang "melek" film akan mampu dan cerdas memilah-milah film yang bermutu dan baik ditonton sehingga menciptakan pasar sendiri yang membuat film-film murahan akan kehilangan penonton.

"Masyarakat akan tahu mana film yang baik ditonton, mencintai film-film yang bermutu. Secara otomatis seperti itu dan menciptakan pasar sendiri-sendiri. Film-film murahan dengan sendirinya akan tersingkir," katanya.

Sementara upaya apresiasi, kata dia, dilakukan dengan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada film-film bermutu, misalnya yang sanggup menembus pasar internasional sehingga mendorong munculnya film-film berkualitas.

Upaya apresiasi dilakukan pula dengan menggelar berbagai perlombaan berkaitan dengan perfilman, lanjut dia, misalnya lomba penulisan naskah perfilman yang hingga kini sudah terkumpul sampai 700 naskah.

Subantoro mengakui sekarang ini masih banyak film-film tidak bermutu yang menghiasi wajah perfilman Indonesia sehingga para sineas perfilman perlu dipacu untuk meningkatkan kualitas film-film yang dibuatnya.

"Saat ini, ada dua kementerian yang mengurusi perfilman, yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kemendikbud sehingga diharapkan bisa lebih maksimal mendorong film-film berkualitas," katanya.

Di Amerika Serikat pun, kata Subantoro, film-film murahan seperti itu juga ada tetapi tidak banyak, karena kemunculan film-film yang berkualitas dan bermutu bisa menyeimbangkan iklim perfilman di negara tersebut.

Sumber : tribunnews.com

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday40
mod_vvisit_counterYesterday124
mod_vvisit_counterThis week553
mod_vvisit_counterLast week1227
mod_vvisit_counterThis month2542
mod_vvisit_counterLast month4119
mod_vvisit_counterAll days1150218

We have: 12 guests online
Your IP: 23.20.86.177
 , 
Today: Okt 21, 2017