10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Pendidikan

Siswa ini meniti bambu untuk bersekolah

Mandailing Natal. SUARA PEMBANGUNAN

Semangat anak-anak korban banjir bandang di Desa Sopo Batu, Mandailing Natal, Sumatera Utara, berangkat menuju sekolah patut diacungkan jempol.

Demi menggapai cita-cita setinggi langit, para siswa Sekolah Dasar (SD) Sopo Batu ini rela berjalan kaki sejauh tiga kilometer, dan mempertaruhkan nyawanya dengan meniti sebatang bambu yang melintang di atas derasnya arus Sungai Rantopuran.

Desa para siswa ini, hancur diterjang banjir bandang yang terjadi sepekan lalu. Akibat banjir bandang itu, jembatan gantung yang biasa mereka lalui untuk berangkat sekolah hancur. Lambatnya pertolongan dari Pemerintah Daerah memaksa para siswa ini menantang maut.

Sedikit saja mereka lalai dan terjatuh, para siswa ini pasti tewas tenggelam dan terserat derasnya arus Sungai Rantopuran yang buas. Di antara para siswa yang nekad tersebut ada Fatima.

Fatima dan teman-temannya berasal dari Desa Sopo Batu, mengaku terpaksa berangkat ke sekolah, karena mulai hari ini sudah jadwal masuk sekolah. Sebelumnya, jadwal kegiatan belajar mengajar mereka sempat tertunda karena banjir bandang.

Sebenarnya, ada alternatif jalan lain selain melewati jembatan ini. Namun jaraknya jauh dan harus melewati hutan. Fatima mengaku nekad melintasi jembatan bambu, karena keinginannya untuk belajar setelah beberapa hari diliburkan. Padahal, aktivitas belajar di sekolahnya belum terlalu normal.

Masih banyak siswa yang tidak bisa berangkat sekolah, karena rumah mereka masih tergenang banjir dan belum pulih setelah diterjang banjir bandang.

Selain Fatima dan teman-temannya, ada juga siswa yang nekad berangkat sekolah hanya dengan mengenakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakannya saat bermain. Bocah itu bernama Andre. Kendati begitu, dia mengaku tidak merasa malu dengan teman-temannya.

Andre terpaksa berangkat tanpa seragam lengkap karena semua pakaian, perlengkapan tulis dan buku-buku pelajaran yang dimilikinya hanyut dibawa derasnya banjir bandang yang melanda desanya.

Andre berharap, pemerintah dapat lebih tanggap dengan bencana yang menimpa masyarakatnya dan segera menurunkan bantuan kepada para siswa seperti dirinya dan teman-temannya korban banjir bandang.

sumber: www.sindonews.com

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

"Nyontek" jadi wabah di universitas Inggris

Jakarta. SUARA PEMBANGUNAN

Jumlah mahasiswa yang tertangkap tangan menyontek meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir di universitas-universitas top Inggris.

Cara menyontek mereka adalah dengan plagiarisme, membawa contekan ke kelas atau beli esay lewat internet.

Hampir 1.700 mahasiswa dari 20 perguruan tinggi kena hukuman akademik periode 2010-2011. Data itu diungkapkan oleh Freedom of Information Act.Sekitar seratus mahasiswa bahkan dikeluarkan dari kampus.

Praktik curang di kampus itu meliputi "copas" dari internet, menyelundupkan Hape saat ujian dan praktik joki serta menyalin jawaban dari rekan.

Di Universitas Oxford, seorang mahasiswa didenda 100 pound karena membawa contekan saat ujian. Tahun lalu, Cambridge mencopot salah satu kandidat PhD bidang sejarah karena "berbagai plagiarisme".

"Penyalahgunaan akademik" menurut  Freedom of Information Act meliputi plagiarisme, esay yang dibeli, satu esai untuk beberapa tugas, serta praktik joki ujian.

Lembaga itu juga mencatat maraknya situs web yang menjual esai serta jawaban tugas kuliah.

sumber: www.antaranews.com

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Tiga Calon Warnai Pemilihan Rektor UGM

Yogyakarta. SUARA PEMBANGUNAN

Pemilihan rektor (pilrek) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2012-2017 akan segera digelar. Baru tiga orang calon yang telah resmi mendaftarkan diri. Padahal pendaftaran ditutup dua hari lagi, pada Sabtu (3/3/2012) pukul 16.00 WIB.

"Sampai petang ini yang resmi mendaftar ada tiga orang," kata Ketua Panita Ad-Hoc Penjaringan Calon Rektor UGM, Dr Supama di kantor Majelis Wali Amanat (MWA) di kantor pusat UGM di Bulaksumur Yogyakarta, kamis (1/3/2012).

Ketiga orang itu adalah pertama Dr. dr. HM. Hafizurrachman, MPH. Dia adalah Ketua Prodi Mutu Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) dan juga Ketua STIKES Indonesia Maju Jakarta. Kedua, Sekretaris Minat Hukum Kesehatan Prodi Kependudukan Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, drg. Suryono. Ketiga adalah Prof Dr Danang Parikesit, MSc.

Dua orang yang pertama mendaftarkan diri secara langsung. Sedangkan Danang Parikesit didaftarkan tim suksesnya, yakni Dr Senawi.

"Kami optimis bisa menjaring lebih dari lima calon. Besok hari Jumat dan Sabtu pasti akan bertambah lagi," ungkap Supama.

Sementara itu, secara terpisah, sebelum mendaftarkan diri, Danang Parikesit yang juga adik kandung ekonom Dr Anggito Abimanyu bersama puluhan orang pendukungnya membuat syukuran kecil di kantor Pusat Pariwisata UGM. Namun dia tidak bisa mendaftarkan diri secara langsung karena ada tugas ke Surabaya dan mempercayakan tim sukses untuk mendaftar ke MWA.

Dia mengaku terharu dengan dukungan yang diberikan kepadanya karena proses dirinya terpilih jadi bakal calon rektor tidak singkat. Menurut dia ada beberapa hal krusial yang harus segera diselesaikan seperti menata fondasi bagi tata kelola UGM. Yang kedua adalah adanya kerinduan untuk mengembalikan peran UGM ke level nasional bahkan internasional.

"Terima kasih atas dukungannya. Yang penting adalah kita mengutamakan program atau platform. Saya akan bahagia kalau visi dan misi ini dipakai oleh siapa pun yang terpilih nanti," jelas Danang.

sumber: www.detiknews.com

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

ATASI PUNGUTAN LIAR BIAYA PENDIDIKAN, KEMENDIKBUD TERBITKAN PERATURAN MENDIKBUD NO. 60 TAHUN 2011

Depok. SUARA PEMBANGUNAN

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh mengatakan, salah satu tujuan diselenggarakannya Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) adalah untuk menjalankan fungsi koordinasi. Fungsi koordinasi dilakukan antarpengelola pendidikan dan kebudayaan di seluruh Indonesia, baik di daerah maupun pusat. Dalam fungsi koordinasi ini, salah satu topik yang dibahas di RNPK adalah pelaksanaan Peraturan Mendikbud Nomor 60 Tahun 2011 tentang larangan pungutan biaya pendidikan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Menteri Nuh menjelaskan, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk tahun 2012 ini sudah diberikan penuh, yaitu mencapai 100%. Sedangkan sebelumnya, pemberian BOS baru mencapai 70%. Selain itu, mekanisme penyaluran BOS juga sudah diperbaiki. Jika tahun kemarin, dana BOS disalurkan dari Kementerian Keuangan melalui pemerintah kabupaten/kota, baru disalurkan ke sekolah, tahun ini dana BOS disalurkan dari Kementerian Keuangan ke pemerintah provinsi, kemudian langsung ke sekolah-sekolah. Hal ini dilakukan untuk memperlancar proses pencairan dana. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dengan daerah.

Karena itu, Mendikbud M. Nuh mengatakan, Inspektorat Jenderal Kemdikbud akan turun untuk mengecek langsung pelaksanaan Permen tersebut di daerah-daerah. Pengawasan dari Itjen Kemdikbud tersebut akan didampingi pemerintah kabupaten/kota. “Karena yang bertanggungjawab pada SD dan SMP itu pemerintah kabupaten/kota,” ujarnya saat jumpa pers usai pembukaaan RNPK 2012 di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Depok, (27/02). Sehingga koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam pelaksanaan Permendikbud Nomor 60 Tahun 2011 serta pengawasannya juga menjadi pembahasan dalam RNPK 2012.

Menteri Nuh menjelaskan, biaya pendidikan terdiri dari tiga komponen, yaitu biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. Sementara Permendikbud Nomor 60 Tahun 2011 mengatur tentang biaya investasi dan biaya operasional. Karena itu, ia menegaskan, biaya operasional adalah komponen yang harus dijaga atau diawasi dengan baik. “Namun biaya personal tetap tidak bisa dihindari,” ujarnya. Biaya personal misalnya meliputi pembelian seragam sekolah, biaya transportasi sehari-hari, atau pembelian alat tulis sekolah. Untuk biaya personal, solusi yang dikeluarkan Kemdikbud adalah menaikkan anggaran untuk Beasiswa Siswa Miskin (BSM), misalnya untuk BSM SD, naik dari Rp 380.000 menjadi Rp 450.000. “Sementara untuk SMP, dari 580-ribu naik jadi 700-ribuan, dan SMA naik dari 700-ribuan jadi 1-juta,” jelas Menteri Nuh.

sumber: www.kemdiknas.go.id

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

SEKOLAH RAKYAT, CERMIN BURUKNYA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Jakarta. SUARA PEMBANGUNAN

MENDENGAR nama Sekolah Rakyat (SR), masih teringat dengan zaman penjajahan Jepang. Sebelum berganti nama Sekolah Dasar (SD), SR sangat melekat sekali dengan pendidikan anak-anak Indonesia di masa itu.

Tentu saja, kita terpana dengan kondisi saat ini, Indonesia sudah merdeka setengah abad lebih. Bahkan, sudah lima kali berganti presiden, tapi masih terdapat anak-anak kurang mampu yang tidak bisa mengeyam pendidikan dengan baik.

Ironis memang, tapi itulah potret nyata yang terjadi di negeri tercinta ini dan ini juga penyebab kemerosotan pendidikan Indonesia, dimana ditandai dengan meningkatnya jumlah anak putus sekolah usia SD. Belum lagi mereka yang tidak melanjutkan ke tingkat SMP. Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan masalah biaya sekolah.

Atas dasar itu, upaya pihak-pihak terkait memberikan fasilitas untuk memutus rantai kemiskinan keluarga dengan mendirikan sekolah rakyat bagi orang miskin, patut diapresiasi.

Adalah Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia (YSRI) cikal bakal berdirinya Sekolah Rakyat Ancol (SRA) yang kini sudah meluluskan ratusan siswa didik putus sekolah.

Yanuar yang merupakan ketua yayasan mengatakan, YSRI berdiri tidak sengaja dari sebuah keadaan. Waktu itu, krisis moneter melanda Tanah Air pada 1998. Ekonomi lesu, rakyat semakin miskin dan terpuruk, anak-anak seharusnya dijam-jam belajar berada di ruang kelas, bukan sibuk menjajakan dagangannya atau menawarkan jasa semir sepatu.

Akhirnya, pada 2001 lahirlah SMP terbuka yang diberi nama SRI (Sekolah Rakyat Indonesia), seperti dikutip dari buku “Membangun Impian Anak Negeri”. Pertama lima kelas dibuka dan lokasi kegiatan belajar mengajar menumpang di Masjid, kantor RW atau ruang apa saja yang bisa dipakai untuk menumpang 15 murid.

Berangkat dari situ, mulailah YSRI mencari murid lainnya, mencari buku tambahan, dan mencari tenaga didik relawan yang berasal dari kalangan mahasiswa.

Namun dalam perjalanannya bukanlah pekerjaan mudah. Meski ditawarkan cuma-cuma/gratis, tapi bukan jaminan mendapatkan murid dengan mudah.

Banyak orang tua tidak yakin bahwa keputusan memasukkan anaknya bersekolah merupakan langkah awal untuk menyongsong masa depan kehidupan yang lebib baik. Mereka lebih suka anaknya menjadi salah satu sumber instant pencaharian ekonomi keluarga. Tampak sekali bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan belum tumbuh di antara warga.

Untuk mendapatkan murid, para guru harus berjalan berkeliling menelusuri gang-gang sempit dari rumah ke rumah mencari anaknya yang putus sekolah. Iming-iming gratis, tidak cukup membuat para orangtua tertarik dan mendaftarkan anaknya.

Pemerintah Tak Tahu

Berdirinya sekolah rakyat sejak 10 tahun silam yang berlokasi di Bekasi dan Ancol, hingga kini keberadaanya belum diketahui oleh pemerintah. Padahal, sekolah rakyat jelata itu, banyak meluluskan anak-anak miskin pinggiran ibu kota.

Entah apa alasan Dirjen Pendidikan Dasar Kemendiknas, Suyanto yang hingga kini mengaku belum mengetahui keberadaan sekolah rakyat itu. Baginya, sekolah rakyat itu hanya sebuah brand image saja.

“Mungkin itu hanya sebuah brand image sama seperti sekolah duafa, sekolah miskin dan lainnya. Sekolah bagi orang yang kurang mampu,” ujar Suyanto kepada okezone.

Meski begitu, pemerintah sudah berupaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jumlahnya tidak kecil, dna itu sudah ada sejak 2005. Untuk tahun 2012 ini mencapai peningkatan fantastis Rp23,59 triliun, jika sebelumnya hanya Rp16,81 triliun (2011).

Dengan angka itu, mengapa masih ada masyarakat miskin yang hingga kini belum menikmati pendidikan layak. Praktisi pendidikan, Arif Rahman menilai, itulah potret pendidikan di Indonesia yang hingga saat ini masih sangat memprihatinkan.

Selain mahalnya biaya pendidikan saat ini, permasalahan yang banyak disoroti dalam dunia pendidikan saat ini adalah rendahnya fisik bangunan sekolah, sumber daya manusia (kualitas guru), kesejahteraan guru, prestasi siswa.

Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.

“Ya orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan berkualitas tidak mungkin murah. Tetapi seharusnya siapa membayarnya?,” tanya Arif saat berbincang-bincang dengan okezone.

Pemerintahlah yang sebenarnya berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin masyarakat bawah untuk
mendapatkan pendidikan bermutu.

Menurutnya, pemerintah disini harus bertanggung jawab dari infrastruktur dan material. Dimana pemerintah mewajibkan belajar 9 tahun. Tak hanya itu saja selain pemerintah, LSM, masyarakat pada umumnya juga membantu. dan bagi yang berprestasi masuk ke sekolah negeri harus gratis.

Ia melihat, lembaga yang peduli dalam mencerdaskan masyarakat kurang beruntung adalah Sekolah Rakyat Bekasi. Dimana sekolah ini menyadarkan kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak bangsa.

"Sekolah yang diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu itu juga harus didukung oleh fasilitas sarana fisik, kualitas guru, prestasi siswa juga harus ditingkatkan, serta pemerataan pendidikan. Jangan sampai pemerintah menambahi jumlah warga miskin yang tidak bisa bersekolah," jelas Arif.

Karena itu, diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia.

Angka Putus Sekolah

Dunia seakan tercengang ketika mengetahui tingginya angka putus sekolah di Indonesia mulai dari jenjang sekolah dasar. Sebanyak 527.850 anak atau 1,7 persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah setiap tahunnya.

Peringkat Indonesia dalam rilis yang dikeluarkan Organisas Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO), mengalami penurunan. Indeks pembangunan pendidikan Indonesia dalam EFA Global Monitoring Report 2011,  peringkat Indonesia turun pada posisi ke-69 dari 127 negara.

Anak-anak putus sekolah usia SD dan yang tak dapat ke SMP tercatat 720.000 Siswa (18,4 persen) dari lulusan SD tiap tahunnya. Semua itu karena faktor ekonomi. Ada anak yang belum pernah sekolah, ada yang putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya.

Setidaknya ada empat persoalan yang membuat angka putus sekolah masih cukup tinggi. Pertama, kemiskinan yang hingga kini belum sepenuhnya
teratasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada Maret 2011, terdapat 30,02 juta orang miskin atau hanya turun 1 juta orang dibanding tahun sebelumnya. Kemiskinan jelas menjadi momok dalam dunia pendidikan.

Bahkan, Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendiknas mengungkapkan, saat ini jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta.

Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.

sumber: okezone.com - Dina Kusumaningrum - Rabu, 15 Februari 2012

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday172
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week330
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2498
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153701

We have: 13 guests online
Your IP: 23.20.162.200
 , 
Today: Nov 20, 2017