10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Pendidikan

10 Pria Terpintar di Dunia

Jakarta - SUARA PEMBANGUNAN

Ketampanan pria saja tak cukup untuk menarik perhatian perempuan. Saat ini, pria pintar terlihat lebih seksi di mata perempuan. Kepintaran menjadi magnet, tidak saja bagi lawan jenis, tapi juga menjadi penentu kesuksesan bidang yang digeluti. Lalu, siapa saja pria yang memiliki otak encer? Inilah sepuluh pria terpintar di dunia.

1. Matt Damon
Matt sudah menunjukkan kepintarannya sejak SD, SMP, SMU, hingga bangku kuliah. Aktor yang selalu memikat lewat akting-aktingnya ini belajar bahasa Inggris di Harvard University.

2. Quentin Tarantino
Direktur kondang asal Amerika yang sukses membesut film laris seperti Kill Bill dan Inglorius Basterds ini memiliki IQ 160. Wow!

3. Steve Martin
Banyak orang mengenalnya sebagai aktor yang pintar berakting lucu. Namun, ternyata ia tak hanya lucu, ia juga pintar, dan memiliki IQ 142.

4. Dolph Lundgren
Aktor Swedia ini dikenal berkat permainan di film yang ‘berdarah-darah’. Namun aktor yang juga sutradara dan jago bela diri ini punya IQ 160.

5. Arnold Schwarzenegger
Gubernur California dan bintang The Terminator ini punya IQ 135. Tak hanya otot, otak juga jago.

6. Bill Clinton
Politisi dan mantan Presiden Amerika Serikat ini memiliki IQ 137.

7. Albert Enstein
Penemu teori relativitas yang dikenal sangat jenius ini memiliki IQ 160.

8. Bill Gates
CEO Microsoft ini bisa dibilang 'sebelas-duabelas' dengan Einstein. IQ-nya 160.

9. Stephen Hawking
Hawking dikenal dengan teori kosmis dan physicist yang kontroversial. Sebagian orang akan menyimak teori yang muncul dari otaknya yang ber-IQ 160 ini.

10. Gary Kasparov
Bisa dibilang, dialah pria paling jenius saat ini. Bayangkan, grandmaster catur asal Rusia ini memiliki IQ 190.Amazing!

Sumber: www.metrotvnews.com
Posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Menpan Minta Istilah Pendidikan Gratis Dihilangkan

Mamuju - SUARA PEMBANGUNAN

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar meminta istilah program pendidikan gratis di daerah sebaiknya dihilangkan dan tidak lagi digunakan pemerintah.

"Program pendidikan gratis sebaiknya dihilangkan karena sesungguhnya pendidikan gratis itu tidak ada," kata Azwar Abubakar pada rapat kerja Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh dengan para bupati di provinsi itu di Mamuju, Jumat.

Raker dipimpin Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, dan dihadiri lima bupati serta sejumlah pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten.

Menteri mengatakan, pemerintah menjalankan program pendidikan dengan mengalokasikan anggaran pendidikan begitu besar melalui APBD agar siswa tidak dipungut biaya pendidikan di sekolahnya.

Namun, kata dia, program itu sesungguhnya namanya bukan pendidikan gratis karena APBD yang digunakan untuk membiayai pendidikan tersebut berasal dari masyarakat yang membayar pajak.

"Masyarakat sudah membayar pajak melalui APBD, sehingga ketika anggaran APBD digunakan membiayai pendidikan dengan tidak dipungut biaya maka itu adalah hal yang wajar karena mendapatkan pendidikan yang merupakan hak masyarakat," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, istilah pendidikan gratis sebaiknya tidak perlu lagi, dan harus diubah karena dengan istilah gratis maka akan mengubah cara berpikir masyarakat.

Mereka menjadi berpola pikir bahwa pendidikan gratis merupakan program pemerintah, padahal pendidikan sudah menjadi hak mereka.

Sumber : antaranews.com
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat

Bekasi, SUARA PEMBANGUNAN

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur.

Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.

Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?

Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot.

Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.

Kreativitas dan imajinasi

Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!

Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran.

Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional" yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini.

Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian. Kata kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun!

Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah.

Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan.

Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

Ditulis oleh : Yudhistira ANM Massardi (Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi)
Posting : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Satu Zona Waktu, Sekolah Tetap Jam Tujuh

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN

Jakarta -Praktisi pendidikan Arif Rahman mengatakan penyatuan zona waktu tidak merubah masuk sekolah siswa. "Tetap saja jam 7, itu hanya penyebutan saja jam 6," kata Arif saat dihubungi Tempo, Selasa 13 Maret 2012.


Menurut Arif, adanya kebijakan ini harus lebih kepada kesiapan siswanya untuk lebih pagi. "Kami kan harus cerdas, persiapan untuk lebih awal," ujarnya.

Penyatuan zona waktu hanya merubah nama atau sebutan saja. "Jam itu tetap berputarnya, tinggal kami set mengikuti aturan waktu," kata Arif.

Pemerintah berencana menyatukan tiga zona waktu Indonesia yang terdiri atas Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT) melalui program GMT+8 sehingga daya saing ekonomi meningkat dan tercipta efisiensi birokrasi.

Pada 10 Maret 2012, Juru Bicara Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) Edib Muslim mengatakan WIB, WITA, dan WIT akan disatukan. Menurut Edib, penyatuan waktu tersebut untuk meningkatkan produktivitas nasional yang semula hanya terdapat 190 juta penduduk dalam zona WIB, bisa menjadi 240 juta jika waktunya disamakan.

Edib menyatakan, penyatuan waktu semata-mata untuk meningkatkan kinerja birokrasi mulai dari Sabang hingga Merauke. Selain itu, penyatuan waktu ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam bidang ekonomi, sosial politik, bahkan ekologi.

Melalui GMT+8, masyarakat yang tinggal di kawasan Indonesia timur dan tengah akan memiliki waktu transaksi yang lebih banyak dengan masyarakat yang tinggal di kawasan Indonesia barat. Program GMT+8 yang sedang digalakkan oleh tim KP3EI tersebut bertujuan menyatukan tiga zona waktu Indonesia menjadi satu waktu.

Sumber: www.tempo.co
Posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Orang Indonesia Jadi Profesor Termuda di AS

Jakarta. SUARA PEMBANGUNAN

TAHUKAH anda bahwa profesor termuda di negeri Paman Sam itu adalah orang Indonesia? Nama lengkapnya adalah Nelson Tansu. Ketika menginjak usia 25 tahun, dia diangkat menjadi profesor di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena nama akhirnya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Profesor muda itu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Nelson Tansu lahir di Medan, 20 Oktober 1977. Ia adalah lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Tansu Pernah menjadi finalis tim Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun.

Ia mengaku bahwa orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktoral. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Tesis Doktoral-nya mendapat penghargaan sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” yang mengalahkan 300 tesis doktorallainnya. Secara keseluruhan, ia telah menerima 11 penghargaan saintifik di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai jurnal internasional.

Saat ini ia adalah profesor tamu di 18 perguruan tinggi dan lembaga riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai acara internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia.

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia.

Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus diakui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah.

“Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?” tanyanya.

Menurutnya di AS atau Singapore gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji profesor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia.

“Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk mencari makan,” pungkasnya.

Biografi Nelson Tansu

Nelson Tansu (lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977; umur 34 tahun) adalah seorang pakar nanoteknologi dan optoelektronika asal Indonesia yang menjadi tenure-tracked Assistant Profesor  di Universitas Lehigh (Lehigh University) pada usia 25 tahun (sejak Juli 2003).

Riset Tansu adalah dalam bidang fisika terapan (Applied Physics) terutama dalam bidang semikonduktor, nanoteknologi, dan fotonika. Sejak April 2007 sampai April 2009, beliau dipromosi menjadi Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Profesor  di Universitas Lehigh.

Sejak Mei 2009 (usia 31 tahun) sampai April 2010, Tansu dipromosi menjadi Associate Profesor  dengan tenure di Universitas Lehigh. Sejak May 2010 sampai sekarang, Tansu dipromosi menjadi Class of 1961 Chair Associate Profesor (dengan tenure) di Universitas Lehigh.

Posisi Profesor dengan tenure adalah merupakan posisi seumur hidup, dan biasanya hanya diberikan kepada profesor yang telah menunjukkan produktivitas yang tinggi dan riset yang berkaliber tinggi.

Nelson Tansu merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Almarhum) Iskandar Tansu dan ibu (Almarhum) Auw Lie Min. Ia dilahirkan di Medan, dan besar di Medan. Tansu menyelesaikan pendidikan dari TK-SD-SMP-SMA di Yayasan Perguruan Sutomo 1 Medan, di mana beliau merupakan lulusan terbaik saat menyelesaikan pendidikan SMA di Mei 1995. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S1 (BS) sampai S3 (PhD / Doktor) di Universitas Wisconsin - Madison.

Pendidikan

  • TK Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1981 - Mei 1983)
  • SD Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1983 - Mei 1989)
  • SMP Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1989 - Mei 1992)
  • SMA Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1992 - Mei 1995)
  • B.S. in Applied Mathematics, (Electrical) Engineering, and Physics (AMEP), September 1995 - Mei 1998, Universitas Wisconsin - Madison, Madison, Amerika Serikat
  • Ph.D. in Electrical Engineering (Applied Physics), September 1998 - Mei 2003, Universitas -Wisconsin - Madison, Madison, Amerika Serikat

Karier

  • Assistant Professor , Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, Juli 2003 - April 2007
  • Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Professor , Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, April 2007-April 2009
  • Associate Professor  (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2009-April 2010.
  • Class of 1961 (Chair) Associate Professor  (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2010-present.

Hasil Karya Riset

  • Lebih dari 220 publikasi jurnal dan konferensi ilmiah internasional (February 2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi. Terutama bidang riset mencakup fisika dan teknologi dari semikonduktor nanostruktur untuk laser, diode pemancar cahaya, sel surya, komunikasi, energi, dan lainnya.
  • Journal citations: lebih dari 1281 citations, dan h-index = 22 (Februari 2011, ISI Web of Knowledge)
  • Delapan paten dalam bidang nanoteknologi dan optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat

sumber: www.pelitaonline.com

posting: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday174
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week332
mod_vvisit_counterLast week842
mod_vvisit_counterThis month2500
mod_vvisit_counterLast month3527
mod_vvisit_counterAll days1153703

We have: 15 guests online
Your IP: 23.20.162.200
 , 
Today: Nov 20, 2017