10 akhir Ramadhan menunjukkan tingkat keimanan kita, sudahkah khatam Al Qur'an ? atau Ramadhan kali inipun berlalu seperti tahun lalu..

Pendidikan

KASUS BEGAL : ADA YANG SALAH DIPENDIDIKAN KITA

SP- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengaku diinstruksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla agar memberantas pembegalan sepeda motor yang belakangan ini marak terjadi di Jakarta dan sekitarnya melalui pendidikan. Jusuf Kalla, kata Anies, melihat bahwa banyaknya aksi begal ini terkait dengan penerapan sistem pendidikan.

"Pak Jusuf Kalla menyatakan pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan yang diterapkan terkait dengan maraknya aksi begal motor itu," kata Anies di Kantor Wakil Presiden, Senin, 2 Maret 2015. "Ya, ini akan kami review terus."

Anies mengatakan ada tiga aspek pendidikan yang harus dibenahi, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan. Untuk mencegah pengaruh begal di kalangan pelajar, kata dia, ketiga aspek itu harus diperhatikan.

"Di Kementerian, kami akan mengundang para pakar, guru-guru, dan orang tua untuk membicarakan hal ini," kata Anies. "Nanti akan ada pertemuan khusus."

Tujuannya, kata dia, kenakalan remaja dan korelasinya dengan pembegalan sepeda motor dapat diidentifikasi dan diatasi. 

"Jadi nanti dari pertemuan itu diharapkan lingkungan pelajar di mana pun bisa lebih terkontrol dan dampak pelaku kekerasan, seperti begal motor, yang dilakukan oleh remaja bisa dikurangi."

(*Sumber : Tempo.co.id)

Membaca Realitas Politik Ibukota

PROSES demokrasi pertarungan politik lokal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sangat dinamis. Tahapan formal prosedural dalam memperebutkan posisi politik Gubernur ibukota republik indonesia kini telah memasuki tahap final (putaran kedua).

Kontestasi politik pada putaran pertama secara elektoral telah menuai hasil dan menempatkan dua kontestan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama versus Fauzi Bowo Nacrowi Ramli.

Secara geopolitik Jakarta menempati posisi strategis sebagai episentrum perpolitikan nasional. Pameo yang menjadi rumus politik di indonesia adalah “jika anda ingin menguasai indonesia maka kuasai jawa, dan jika ingin menguasai jawa maka kuasailah Jakarta”.

Terlepas dari pameo tadi kita tentu harus memahami bagaimana membaca kontestasi Pemilihan Gubernur DKI ini dan pengaruhnya dalam perpolitikan nasional. Walaupun derajat Gubernur diposisikan di bawah eksekutif atau Presiden, namun posisi Kepala Daerah yang berstatus Khusus adalah sesuatu yang eksklusif.

Ekslusifitas geopolitik Jakarta yang memiliki pembobotan tersendiri karena denyutnya dapat dirasakan secara nasional. Sebagaimana kita perhatikan bahwa tahapan formal prosedural putaran pertama telah berlalu tanpa kejutan signifikan. Walaupun kontestasi di ikuti enam kandidat calon gubernur empat berasal dari partai politik, serta dua kandidat berasal dari perorangan atau independen.

Kekuatan partai politik sebagai saluran untuk mengagregasi kepentingan terlihat dominan. Kemenangan secara elektoral dua kandidat di putaran pertama bisa sedikit menggambarkan artikulasi dan agregasi partai politik masih dominan.

Selain itu kita bisa melihat dari manufer-manufer elit-elit politik lokal maupun nasional untuk melakukan bargaining politik sebelum atau sesudah putaran pertama.

Fakta dalam proses Pemilukada tersebut seakan menjadi konfiguratis dari proses politis dengan segala dinamikanya. Sebelum dan sesudah proses politik hanya menjadi urusan elit politik, dan ujung dari hasil pilihan masyarakat menjadi anomali yang akan menyandera kesadaran politik masyarakat.

Kita masih perlu mencatat dengan keras peran partai di era demokrasi seperti sekarang, partai sering tidak simetris dengan konsituen. Selain itu perlu diingat bahwa faktanya masa mengambang lebih banyak dominan dari pada konsituen partai.

Partai politik pun absen dalam melakukan pendidikan politik masyarakat, dan sering terjebak pilihan pragmatis dan kolutif.

Sumber : pelitaonline.com

MAHASISWA : RODA PERUBAHAN BANGSA

Jakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika berbicara tentang "mahasiswa"? Dulu, jika berbicara tentang mahasiswa berarti berbicara tentang perubahan, berbicara tentang perubahan berarti berbicara tentang mahasiswa.

Hal tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat berbagai gelar dan status yang disandangkan kepadanya, yaitu sebagai agen perubahan (agent of change), iron stock dan social control.

Mahasiswa sebagai agent of change memiliki artian bahwasanya ia terbuka dengan segala perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau objek perubahan itu sendiri. Dengan kata lain mahasiswa adalah aktor dan sutradara dalam sebuah pagelaran bertitelkan perubahan.

Selain itu, mahasiswa pun diharapkan dan menjadi harapan untuk menjadi seorang pemimpin di masa depan yang memiliki kemampuan intelektual, tangguh dan berakhlak mulia. Itulah yang dimaksud mahasiswa sebagai iron stock, sebagai tonggak penentu bangsa.

Peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, dan social control mengharuskan mahasiswa untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun, hanya mahasiswa yang sadar dengan keadaanlah yang mampu dan layak mengusung perubahan.

Sejarah telah mengukirkan banyak cerita tentang bagaimana peran mahasiswa dalam perubahan kondisi bangsa dan negaranya mulai dari zaman kenabian, zaman kolonialisme hingga zaman reformasi.

Di Indonesia pun untuk merubah orde baru menjadi reformasi, menumbangkan rezim Soeharto siapa yang memegang kendali? Tentu mahasiswa. Disamping itu mahasiswa pun memiliki berbagai ilmu yang bisa dijadikan sebagai tonggak intelektual. Dengan ilmu yang dimilikinya, mahasiswa sebenarnya mampu untuk menjadi tonggak masa depan bangsa.

Lain dulu lain sekarang. Kini, ketika berbicara tentang mahasiswa yang terbayang adalah sosok individualis dan self centered yang hanya memikirkan diri pribadi saja.

Boro-boro menjadi aktor perubahan, melek keadaan sekitar pun tidak! Bisa dibilang, mahasiswa telah berubah wujud menjadi sosok autis nan apolitis yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual. Kaum yang bisa dibilang memiliki intelegensi diatas rata-rata, sehingga dapat memberikan kontribusi positif demi peubahan dan kemajuan di tengah masyarakat.

Lagi-lagi sangat disayangkan, ilmu yang mati-matian dikejar pun, bukan karena tuntunan keilmuannya, bukan pula untuk diaplikasikan dalam kehidupan, tapi semata untuk mengejar-ngejar "nilai dan karir". Sehingga apa yang terjadi? Ilmu hanyalah sebatas angin lalu karena tidak diresapi esensi dari ilmu itu sendiri.

Jika mahasiswa nya saja tidak bisa menjadi tonggak masa depan bangsa, bagaimana jadinya nasib bangsa ini? Ketika mahasiswa mempunyai peran yang lebih yaitu peran intelektual dan tonggak perubahan, seharusnya mahasiswa memfungsikan peran itu.

Sebagai kaum intelektual berarti menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan menjadikan menimba ilmu itu sebuah kewajiban dan ibadah kepada Sang Pencipta. ketika sebagai tonggak perubahan artinya mahasiswa harus peduli dengan lingkungan sekitar dan mampu untuk melakukan perubahan ditengah-tengah umat.

Karena sesungguhnya umat saat ini membutuhkan mutiara-mutiaranya untuk bisa menerangi mereka dalam kegelapan. Siapa mutiara-mutiara umat itu? Mahasiswa!

Perubahan apa yang seharusnya layak diusung oleh mahasiswa. Ingat mahasiswa juga manusia. Itu artinya mahasiswa pun adalah makhluk dari Sang Kholik yang mempunyai peran juga sebagai hamba-Nya untuk melakukan setiap perbuatan sesuai dengan perintah Pencipta-Nya.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Namun saat ini kesempurnaan islam tidak bisa dirasakan karena tidak diterapkannya islam dalam kehidupan. Sehingga yang terjadi hanyalah kerusakan. Oleh karena itu perubahan yang seharusnya diusung mahasiswa adalah mengembalikan kehidupan islam untuk bisa dirasakan oleh masyarakat.

Ketika islam diterapkan bukan dirasakan efek sampingnya saja seperti kesejahteraan, perdamaian dan lain sebagainya namun konsekuensi keimanan kita kepada Allah untuk bisa terikat dengan hukum Allah. Jika kita benar-benar mengaku beriman kepada Allah, apakah kita pantas untuk melanggar semua perintah-Nya dengan cara meninggalkan islam dalam kehidupan? Dimanakah letak keima nan kita?

Ketika kita mengusung perubahan ke arah islam, ini artinya kita pun harus mengetahui islam lebih dalam dengan senantiasa mengkaji islam. Dan kita bisa menemukan bahwasanya islam bukanlah hanya mengatur hubungan kita kepada Allah saja seperti shalat, puasa, zakat dan naik haji namun islam adalah solusi kehidupan yang bisa menjawab permasalahan manusia dengan tepat dan tuntas.

Mahasiswa pun harus memiliki identitas, yakni dengan memegang teguh islam. Perubahan akan menjadi jelas jika perubahan yang diusung adalah perubahan ke arah islam. Oleh karena itu yang pantas untuk dijadikan sebagai perubahan bukan perubahan yang ecek-ecek tapi perubahan untuk mengembalikan kembali kehidupan islam di tengah-tengah masyarakat.

Karena itu adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Siapa yang bisa menjadi mutiara-mutiara umat, pengusung perubahan? Jawabannya tentu KITA, MAHASISWA.

*Ayu Sushanti : Penulis adalah Anggota Divisi An-nisaa' KALAM Universitas Pendidikan Indonesia.

Sosiolog UGM : Banyak Dosen Jadi "Pengasong"

Yogyakarta, SUARA PEMBANGUNAN.

Ada kecenderungan para akademisi saat ini lebih mementingkan nilai-nilai pragmatis daripada nilai-nilai ilmu pengetahuan. Kegiatan pengajaran dan penelitian hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan melalui proyek-proyek daripada pengembangan ilmu pengetahuan.

Padahal tugas utama seorang akademisi adalah melakukan refleksi kritis dan mempertahankan nilai-nilai abstrak pada zamannya seperti kebenaran, keadilan, dan rasio. Ada banyak nilai-nilai yang dipunyai para akademisi semakin memudar karena mereka lebih banyak mengejar kepentingan pragmatis.

Hal itu diungkapkan sosiolog Fakultas Ilmu Sosial Poltik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Heru Nugroho dalam pidato pengukuhan guru besar di Balai Senat, UGM, Selasa (14/2/2012).

"Tidak mengherankan jika muncul istilah dosen asongan yang kerja di luar kampus dan menjadikan kerja kampus justru sambilan," kritik Heru Nugroho.

Heru dalam pidato pengukuhan menyampaikan pidato berjudul "Negara, Universitas dan Banalitas Intelektual: Sebuah Refleksi Kritis dari Dalam". Menurutnya hal tersebut telah menciptakan fenomena klobotisme di kalangan akademisi atau hanya sekadar barang pembungkus saja serta menciptakan kegiatan akademik yang involutif. Banalitas intelektual merupakan fenomena yang merebak dan mengingkari dunia pendidikan tinggi yang ditandai dengan sejumlah indikator.

Salah satunya, kata dia, menguatnya pengkhianatan akademik yang membuat para akademisi mementingkan nilai pragmatis daripada nilai-nilai ilmu pengetahuan. Para akademisi yang mengejar kepentingan pragmatis membuat tugas utama akademisi untuk mempertahankan kebenaran, keadilan, dan rasio makin memudar.

"Ini juga memunculkan 'dosen asongan', yaitu dosen yang tidak menjalankan tugas utamanya melainkan menggunakan alat akademik untuk kepentingan ekonomi politik dosen yang bersangkutan," katanya.

Hal lain, maraknya intelektual pamer yang muncul dalam acara talkshow terkait masalah yang populer di televisi. Akademisi ikut terbius untuk tampil dan cenderung narsistik untuk tampil di televisi dan melahirkan intelektual instan.

"Mereka akhirnya menjadi bagian dari fenomena klobotisme yang hanya ikut meramaikan hiruk pikuk pergunjingan politik elite," kata staf pengajar jurusan Sosiologi itu.

Akibatnya lanjut Heru, kritik-kritik akademisi yang dilontarkan kurang memiliki kekuatan emansipatoris karena para akademisi yang mengkritik bertujuan menjadi bagian yang dikritik. Pengkritik itu kemudian mendapat julukan 'ahli' untuk selanjutnya ditarik menjadi menteri, wakil menteri atau staf ahli dan jabatan yang lain.

"Itu semua tidak menghasilkan apa pun secara akademik kecuali realisasi hasrat kuasa pragmatis. Akademisi bahkan jadi aktor menerapkan kebijakan pemerintah yang mengorbankan rakyat kecil," tegasnya.

Heru mencontohkan, macam-macam atribut dan profesi yang disandang oleh akademisi tipe 'asongan' seperti staf ahli, staf khusus, konsultan, direktur, deputi, konsultan lembaga donor internasional dan sebagainya menjadikan mereka tidak lagi menjadi intelektual kampus. Namun hanya menggunakan alat-alat akademik demi kepentingan ekonomi politik mereka.

Intelektual tipe tersebut pada akhirnya bukan memberikan eksplanasi kritis-reflektif. Tetapi justru membela mati-matian secara defensif pihak yang memberinya posisi.

"Contohnya saya pernah menjadi konsultan pembangunan di pemerintahan, akibatnya saya menjadi ambigu dalam bersikap maupun dalam membuat rekomendasi yang saya formulasikan, terutama bila dikaitkan dengan persoalan yang sedang dialami rakyat. Saya menjadi tidak bisa membela penuh kepentingan rakyat," katanya.

Heru menambahkan di dalam perguruan tinggi tersebut kemudian muncul kegiatan akademik yang involutif. Salah satu indikatornya jumlah penelitian semakin banyak tetapi hasilnya kurang terasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara itu, diskursus politik kampus lebih menarik daripada wacana penelitian dan diskusi akademik.

"Contohkan kalau ada pemilihan rektor atau dekan, pasti ada mobilisasi dari para calon. Ironisnya, jabatan struktural-administrasi jadi tolok ukur keberhasilan dosen, seperti halnya pilkada," tegas Heru.

Menurut dia, dosen yang bergelar profesor dan doktor seharusnya lebih banyak mencurahkan waktu untuk aktivitas ilmiah. Di UGM, jumlah guru besar aktif saat ini mencapai 274 orang, emeritus 35 orang, dan luar biasa 1 orang, dan dosen bergelar doktor sebanyak 856 orang. Hingga tahun 2010, jumlah buku yang dihasilkan para dosen adalah 162 buah saja dan bisa dianggap sebagai bagian fenomena banalitas. Buku maupun jurnal yang diterbitkan hanya untuk mengejar kenaikan pangkat, jabatan akademik, dan menimbulkan sindroma formalisme.

"Jurnal yang diterbitkan hanya sebagai jurnal masturbasi yang dibuat sendiri untuk kepentingan sendiri," tuturnya.

Menurut Heru, semangat kerja dan asketisme akademik yang militan dari seorang dosen juga jauh dari harapan. Militansi ilmuwan sosial di Indonesia masih rendah sehingga penelitian yang dihasilkan tidak memadai. Ilmuwan sosial Indonesia mati dalam habitat subur pengetahuan dan problem sosial.

"Mereka malah menghabiskan waktu pada aktivitas bersifat proyek," tegasnya.

Heru menegaskan banalitas intelektual ini juga terintervensi negara yang memperlakukan universitas dalam subordinasi kekuasaan negara yang berakibat pada birokratisasi pendidikan. Di berbagai kebijakan penelitian pemerintah, dikondisikan pemerataan dana penelitian sehingga banyak penelitian di bawah standar.

"Itu semua akibat dari politik penguasaan anggaran penelitian olehnegara dengant ujuan mengontrol universitas," tutup Heru.

Sumber : detiknews.com

Koran Pertama DI Dunia

Surat kabar pertama di dunia, menurut sejarah jurnalistik adalah Acta Diuma yang terbit tahun 59 sebelum masehi di kota Roma pada Zaman Julius Caesar yang berisi tentang kebijakan-kebijakan kaisar.
Acta Diuma berisi keterangan dari istana, semacam siaran pers, ditulis di sembarang benda, sebab kertas belum ditemukan. Baru setelah kertas ditemukan pertama kali oleh Tsai Lun dan penemuan mesin cetak olah Johan Guttenberg di tahun 1456, surat kabar mulai di cetak.
Surat kabar pertama yang dicetak adalah Relation, diterbitkan tahun 1605 oleh Johan Carolus.
Surat kabar tertua di dunia yang hingga saat ini masih terbit adalah Post – och inrikes Tidnigar dari Swedia yang terbit mulai tahun 1645.
Surat kabar yang mulai menggunakan kertas dan lebih terperinci adalah Journal An Sou de Nouvelle yang terbit di Perancis pada masa Napoleon Bonaparte, abad ke-17, berisi tentang perjalanan tentara Napoleon dari Paris menuju Napoli di Italia.
Namun, banyak orang yang meyakini bahwa tren surat kabar dengan format yang kita kenal seperti sekarang ini, pertama kali dicetak di Inggris tahun 1621.
Adapun surat kabar pertama yang terbit di Indonesia adalah Batavia Nouvelles.

 

Sumber : jagoannews.com

Artikel Lainnya...

Follow Us

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday110
mod_vvisit_counterYesterday62
mod_vvisit_counterThis week256
mod_vvisit_counterLast week1041
mod_vvisit_counterThis month1471
mod_vvisit_counterLast month4129
mod_vvisit_counterAll days1156803

We have: 44 guests online
Your IP: 107.20.120.65
 , 
Today: Des 12, 2017